Syair

Isyarat Duka

Kamboja dan melati kau tanam di lubuk kota hati,

bersama batu bernama

dan mendung pada muka yang duka

Sedangkan di luar sana

hujan sedang menderu,

Tanah beranjak membatu,

dan air tertimbun menjadi gunung

runtuh sekejap waktu
 

Sampai Mana Ku Bertanya?


Buku itu kembali ku tata, sebagai tanda bahwa telah lama ia tertinggal,

 namun seperti halnya Ia yang berdebu tak menjamin isinya telah lalu

Adakalanya ku rimbang ia pada kenangan, pada tashih perannya 

mendekap kata-kata, di balik itu hurufnya telah menjadi nafas yang 

senantiasa ku timang pada harap di atas ubunku


Selama jariku masih mampu menari, kan ku rapal ia pada dzikir 

thoharohku, sembari mengingat lipatan di ujung halaman sebagai 

penanda “sampai mana ku bertanya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *