membunuh-rasa-ikamaru-jogja
Cerpen

MEMBUNUH RASA

“Empu geluh!” teriak Kakek Nasir setelah ia mengamati sinar mentari yang mengintip di sela-sela daun jati.

“Apa sudah waktunya istirahat Kek?” tanyaku.
“Kelihatannya sudah. Lihatlah, sinar matahari yang menerobos daun-daun itu. Sinarnya berada di atas kepala kita!”
“Oh ya betul Kek, matahari sudah di atas kepala kita!”
Kataku setelah kudongakkan kepala mengikuti perintah Kakek Nasir. Kulihat Samsudin dan Pak Ali masih serius membongkah batu segede meja.

“Samsudin…! Pak Ali…! Ayo, kita istirahat dulu!” teriakku kepada Samsudin dan Pak Ali yang belum mau meninggalkan batu itu.
“Ya, sebentar! Ini batunya sangat besar!” teriak Samsudin.

“Tinggal aja, nanti dilanjutin!” teriakku.
“Nanggung!”
“Baiklah kalau begitu,aku ganti baju dulu, ya!” teriakku lagi.
“Ya, silahkan!”

Kususul Kakek Nasir yang telah melangkah mendahului ke tempat kami menaruh baju ganti. Setelah ganti baju, aku duduk di sebelah Kakek yang sudah berumur 75 tahun tetapi tenaganya masih perkasa. Kunikmati rokok produksi Madura ini sambil menunggu Samsudin dan Pak Ali, anak Kakek Nasir untuk menyantap makan siang.

“Setelah makan kita sholat ke tempat kemarin siang atau pindah ke desa lain Kek?” tanyaku kepada Kakek yang sudah lama ikut Kyai Sholeh ini.
“Kita pindah saja. Di tempat kemarin aingnya tinggal sekunik!”

Aku hanya mengangguk-angguk menerima jawaban dari Kakek Nasir. Memang kemarau sangat terasa. Kemarau telah merampas sumber-sumber air. Padahal desa-desa sekitar hutan jati milik Pak Yai Sholeh ini area pegunungan. Namun, sumber air sudah banyak yang mati

“Kringngng…..! Kringngng…..! Kringngng…..!””
“HP mu bunyi tuh!” kata Kakek Nasir kepadaku sambil menunjuk plastik hitam yang bergelantung di pohon.
“Biarlah, Kek! Paling-paling teman-teman pada iseng!” tangkisku.
“Diangkat saja, siapa tahu ada hal yang penting! Dari keluargamu misalnya?”
“Biarlah kek!”

Kubiarkan deringan HP itu sampai bunyinya melemah dan hilang. Karena niatku pergi dari rumah, menjauh dari hingar binger kehidupan. Aku ingin meraih ketenangan. Takdirku membawa aku sampai di sini.

Sudah satu tahunan lebih aku berada di Pulau Madura ini. Aku tinggal di pondok pesantren yang terletak di daerah pegunungan, di Desa Pelesangger Kabupaten Pamekasan Madura.

Walau antara Pulau Garam dan Pati hanya beberapa jam saja, selama ini aku belum pernah pulang ke rumah. Aku berusaha mengusir kekangenanku kepada Emak, Bapak, Kang Khoirun dan lebih-lebih kepada Nawang dengan mengikuti kegiatan di pondok pesantren ini. Semenjak aku tinggal di Madura ini, aku enggan berkomunikasi dengan teman-teman dan keluargaku di Jawa.

Aku pergi meninggalkan rumah sejak Kang Khoirun menikah dengan Nawang. Waktu itu aku pergi dari rumah setelah menyaksikan akad nikah. Aku pergi tidak pamit dengan keluarga. Aku hanya berpesan kepada Bambang kalau Bapak atau Mak tanya, aku suruh bilang kalau aku dapat panggilan pekerjaan. Waktu itu aku pergi hanya untuk menenangkan diri. Ya, mungkin untuk beberapa hari. Tetapi, aku malah nyampe di Pulau Garam ini.

Ketika aku pergi dari rumah, aku hanya membawa beberapa potong pakain saja. Aku tidak bawa ijazah atau surat-surat penting lainnya karena aku tidak berniat cari kerja. Untuk memenuhi perutku aku ikut Pak Yai Sholeh, pengasuh Pondok Pesantren Madu Kawan. Di sini setiap hari aku disuruh mengumpulkan batu dari hutan jati miliknya yang terletak di gunung yang jaraknya 5 KM dari pondok. Mungkin jaraknya sama dengan jarak antara Desa Guyangan Trangkil sampai Juwana. Aku berangkat dan pulang berjalan kaki bersama temanku, Samsudin anak dalem.

Walau aku seorang sarjana lulusan UIN Sunan Kalijaga Jogja, Jurusan Tarbiah tetapi identitasku aku rahasiakan. Aku bisa saja ngajar MI, MTs, bahkan Aliyah di sini. Karena, di pondok ini mengelola berbagai pendidikan, sedang guru-gurunya hanya beberapa yang lulusan sarjana. Tetapi, aku lebih suka memanggul batu di hutan bersama Samsudin, Kakek Nasir, dan Pak Ali. Jiwaku terasa tenang saat kerja mengumpulkan batu di hutan jati bersama mereka bertiga dengan dihibur oleh perkutut-perkutut alas. Sehingga aku mampu membunuh rasaku yang menggelora kepada Nawang yang kini secara syah menjadi suami kakakku.

Ditambah lagi kedamaianku di saat istirahat siang aku bisa ngobrol dengan orang-orang Madura, warga desa yang rumahnya dekat hutan. Karena setiap istirahat siang Mbah Nasir mengajak aku, Samsudin, dan anaknya turun gunung mencari surau untuk sholat dhuhur dan istirahat sejenak. Perasaanku sangat terhibur dengan keramahan orang Madura saat mereka membawakan, singkong rebus, kopi, nasi jagung untuk kami. Orang-orang Madura sini ramah-ramah berbeda dengan orang-orang Madura yang merantau di Jawa.

“Kringngng…..! Kringngng…..!” HP ku berbunyi lagi.
“Angkat saja Nak! Kalau tidak penting, tidak mungkin menelpon lagi!”
Entah mengapa ada dorongan dalam jiwa yang memaksaku untuk meraih HP yang ada dalam plastik hitam yang aku gantung di pohon jati itu.

“Assalamualaikum…..!”

Aku sangat terkejut mendengar suara orang yang mengucap salam dalam telepon. Aku sangat hapal suaranya. Kangenku seketika membuncah. Tergambar sosok wanita yang selama ini aku siksa batinnya yang bukan sama sekali karena kesalahannya. Pikiranku kacau. Bingung. Harus aku biarkan atau aku angkat telponnya?

“Assalamualaikum….!” Wanita itu mengulangi salamnya.
“Waalaikum salam….!”terpaksa aku jawab salamnya.

Dadaku sesak. Ada sesuatu yang menggumpal di dada. Batinku menangis. Tak sengaja ada sesuatu yang mengalir dari bola mataku. Aku mencoba meredam air mata yang mengalir dari bola mataku. Lelaki harus tangguh. Pantang mengeluarkan air mata.

“ Le.., ayahmu masuk rumah sakit! Kamu pulang yo, Le….!” Suaranya parau. Mungkin Mak juga mengeluarkan air mata. Karena selama ini aku enggan dihubungi.
“Sakit apa, Mak?”

Jawabku sedikit terkejut karena Bapak tidak pernah sakit. Bapak orangnya luar biasa. Bapak tidak pernah minum pil atau jamu. Kalau badannya pegal-pegal cukup minta pijit saja. Dia paling enggan kalau pergi ke dokter. Kalau diajak kedokter lebih baik dia minta dibelikan sate itu sudah cukup.

“Bapakmu magnya kambuh. Kamu pulang yo, Le! Mak juga sangat kangen karo awakmu! Awakmu bali yo Le! Bali tenan yo, Le!”
“Ya, Mak! Salman akan pulang! Salman juga kangen dengan,Mak!” jawabku.
“Bapakmu juga Tanya terus tentang kamu, sempatkan pulang tenan yo!

Pulanglah satu atau dua Minggu di rumah, ya! Nanti kalau kamu ingin kembali merantau lagi tidak apa-apa! Ingin merantau bertahun-tahun juga tidak apa-apa!”Seng penting awakmu roh omah. Aku tahu keadaanmu!

“Nggeh, Mak! Salman akan pulang secepatnya!” jawabku untuk menyenangkan hatinya.

Mak tidak menau masalahku. Mengapa wanita tua itu harus menanggung hukumanku? Ah biarlah, aku tetap pada keputusanku! Aku belum pulang kalau belum mampu melupakan Nawang dan sebelum aku dapat menemukan pengganti Nawang. Mak, ma’afkan aku! Maafkan aku yang telah memutus tali selama ini. Ma’afkan juga anakmu yang belum bisa menuruti keinginanmu. Aku belum bisa pulang karena di rumah ada menantumu yang menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak mau menghancurkan semuanya. Biarlah aku yang hancur asalkan Nawang dan Kang Khoirun bahagia.

Lagian aku masih belum mau bertemu Bapak. Karena Bapaklah orang yang paling aku anggap bersalah dalam hal ini. Kenapa dia melamar Nawang untuk kakakku bukan untuk aku? Padahal Bapak sudah diberitahu Lek Darman kalau aku dan Nawang saling menyinta. Tetapi Bapak bersikeras kalau yang menikah harus Kang khoiron lebih dulu. Bapak ngugemi adat jawa. Adik laki-laki tidak boleh mendahului kakaknya babakan pernikahan.

Kelurga Bapak Jamil juga tidak berani mengatakan kepada Bapak kalau yang cinta kepada anaknya adalah aku bukan Kang Khoiron. Bapak Jamil tidak berani mengungkapkan kepada Bapak kalau yang diinginkan jadi menantunya itu aku bukan Kang Khoirun. Kedua orang tua Nawang tidak mampu membatalkan pernikahan. Akhirnya pesta perkawinan digelar.

Untung, di sini banyak aktivitas yang aku jalani sehingga aku mampu menikam rasa kekangenanku kepada Mak, Bapak, Kang khoiron dan lebih-lebih kepada Nawang. Dengan berat kulewati hari-hariku walau bayang-bayang mereka selalu hadir di setiap malamku. Bayang-bayang mereka hadir setiap langkahku. Lebih-lebih bayang-bayang Nawang yang selalu hadir setiap terjaga mataku. Karena bertahun-tahun Nawang telah menyatu dalam hidupku. Jiwa Nawang telah masuk dalam jasad dan sukmaku. Alhamdulillah, kini perlahan bayang-bayang Nawang mulai memudar. Namun, masih ada sesuatu yang tertanam sangat dalam dada ini.

“Dari siapa?” tanya Kakek Nasir ketika aku menyudahi teleponku.
“Dari Mak, Kek! Bapak sakit. Beliau sekarang masuk rumah sakit.”
“Nak, pulanglah…! Kalau kamu ada masalah dengan orang tua kamu selesaikan dengan baik-baik. Bapakmu sekarang masuk rumah sakit. Dia sakit. Orang sakit tidak hanya perlu dokter dan obat saja. Dia perlu kekuatan jiwa. Perlu dukungan dari kamu untuk sembuh!”

Aku diam. Selama ini yang tahu masalahku hanya Kang Saiful dan temanku Samsudin. Mungkin Kakek tahu kalau aku mempunyai masalah dengan orang tua karena sikapku tadi yang memutus telepon? Atau mungkin dia pernah diberitahu Samsudin? Waktu aku masih sangat larut dalam pernikahan Nawang dan Kang Khoiron, Kang Saiful menghampiri aku suatu malam menanyakan apa yang terjadi hingga aku sampai di Madura. Akhirnya aku terbuka. Aku menceritakan semua masalahku kepadan ketua pondok itu. “Kang, kita harus bisa melupakan masa lalu. kita harus menghadapi masa sekarang, lebih-lebih masa yang akan datang. Nasib, jodoh, rejeki, dan mati itu sudah diatur oleh Allah sebelum manusia diciptakan. Jadi, Kang Salman jangan berlarut-larut dalam kesedihan,” kata Kang Syaiful waktu itu kira-kira satu setengah bulanan aku tinggal dipondok ini. ”Berarti, Nawang itu tidak jodoh Kang Salman” tambahnya.

Kata-kata yang keluar dari mulut ketua pondok itulah yang selalu aku pegang untuk menapaki hidupku di pondok pesantren ini. Walau kenyataannya sangat berat dan sulit, tidak semudah yang diucapkan Kang Saipul. Kang Saipul bisa berkata seperti itu mungkin karena tidak pernah mengalami yang aku rasakan selama ini. Kalau dia merasakan apa yang aku alami pasti dia juga akan bersikap seperti apa yang aku lakukan meski dia sudah hapal 30 juz Al-quran. Karena dia juga manusia biasa yang punya suka dan duka, yang punya bahagia dan derita.

“Entahlah Kek! Aku sudah tidak ingin pulang. Aku ingin tinggal di Madura sini saja. Aku sudah tidak ada harapan untuk kembali ke Jawa. Aku ingin menjadi penduduk sini saja!”

“Nak…, apa yang kau harapkan dari daerah ini? Orang Madura malah banyak yang merantau ke Jawa untuk mengubah nasib hidup mereka. Kamu orang jawa malah ingin tinggal di Madura ?”

Aku tidak tau harus bilang apa menjawab kata-kata yang dilontarkan Kakek Nasir. Memang betul daerah ini pegunungan jauh dari keramaian. Orang sini pekerjaannya bertani bawang merah dan tembakau. Hasil mereka hanya cukup makan sehari-hari. Karena bawang merah dari sini harganya jauh rendah jika dibanding bawang merah dari daerahku, Pati.

“Semua masalah itu ada penyelesaiannya, Nak! Dah, begini saja! Karena ukuran orang bahagia itu bukan karena materi. Kalau Nak Salman nyaman dan tenang hidup di sini, silahkan….! Tetapi kamu pulang dulu temui keluargamu . Kasih semangat dulu Bapakmu kalau dia sudah sembuh kamu kembali lagi ke sini.” kata Kakek Nasir sambil menepuk pundakku.

“Ya, Kek!”
“Kamu nanti tidak usah melanjutkan kerja. Biar aku, anakku dan Samsudin yang melanjutkan pekerjaan. Insyaallah minggu ini tercukupi dua truk, batu. Sebelum pulang kamu pamit dulu dengan Bapak Kyai, ya!”

Aku hanya mengangguk. Karena aku belum bisa memutuskan untuk pulang. Berat rasanya. Aku sudah tidak punya harapan lagi di Jawa. Aku tidak ingin bertemu Nawang.

“Kek, kita makan di mana?” Tanya Samsudin kepada Kakek Nasir ketika dia menghampiri kami sambil membawa dua kantong plastik berisi nasi dan lauk.

Bekal itu aku bawa dari pondok tadi pagi bersama Samsudin. Nasi yang dicampur jagung dengan lauk tempe dan telur ditambah sambal tanpa terasi merupakan makanan kami tiap hari.

“Di sini saja tempatnya enak!” jawab Kakek Nasir.
Aku dan Samsudin memetik beberapa daun jati untuk alas makan.

&&&&&

Walau belum larut benar malam sudah sepi. Samsudin sudah mendengkur beberapa jam tadi. Sudah separuh lusin rokok yang aku hisap hanya beberapa jam saja. Bukan karena protes perutku yang hanya aku isi sepiring lontong campur dari warung Cak Nur depan pondok. Namun pikiranku belum dapat aku ajak terpejam. Pikiranku melayang-layang ke Jawa. Gairah kangenku kepada Nawang bergeliat lagi. Padahal kemarin-kemarin rasa kangenku kepadanya sudah mulai padam. Pikiranku dan kangenku juga merambah kepada Mak dan Bapak. Walau Bapak, orang yang aku benci selama ini. Aku memaksa sampai di Pamekasan ini juga karena keputusan Bapak. Mungkin karena darahnya mengalir di tubuhku ini, kangen itu tetap ada.

Tiga bulan yang lalu Bapak masuk rumah sakit. Beliau dirawat selama sepuluh hari. Meski begitu, aku tidak pulang melihat keadaan bapak. Padahal antara Pati dan Madura hanya butuh waktu satu hari. Biarlah aku dianggap oleh orang-orang desaku kalau aku ini anak yang tidak berbakti. Yang penting aku tidak punya niatan seperti itu. Sebagai gantinya, aku disini selalu berdo’a dan membacakan surat Fatihah untuk kesembuhan Bapak. Aku juga berdoa untuk Mak dan saudara-saudaraku. Agar mereka selalu dilindungi oleh Allah, diberi kesehatan, keselamatan dan dikabulkan segala keinginan.

Ketika Bapak pulang dari rumah sakit aku juga diberi tau. Aku hanya dapat mengucapkan syukur alhamdullillah kepada Allah kalau bapak masih diberi kesembuhan. Aku juga disuruh pulang oleh kakak-kakakku karena bapak betul-betul kangen kepada aku. Tetapi Aku masih belum siap pulang. Aku masih belum siap bertemu dengan Nawang. Walau sudah satu tahun lebih, aku belum bisa membuang perasaanku terhadap Nawang. Perasaan itu timbul tenggelam. Surut pasang. Mungkin cinta dan kasih sayangku kepada Nawang sudah lama tertanam dalam di dalam jiwaku ini. Hati dan jiwa Nawang sudah bercampur dalam urat nadiku. Napas Nawang sudah masuk dalam rongga jantungku. Sehingga aku sulit melupakannya. Sehingga aku sulit menikam perasaanku kepada wanita yang kini menjadi kakak iparku. Aku akui dia sangat berarti bagiku. “Nawang….ah….!”

Bertahun aku dan Nawang saling mengasihi. Cinta Nawang kepadaku sangat tulus, begitu juga aku. Aku selalu teringat kata-kata Nawang waktu prtama kali aku mengajaknya pergi di Pulau Panjang, sebuah pulau kecil yang terletak dekat dengan Pantai Kartini, Jepara. Pada saat itu aku, Nawang dan teman-teman berekreasi ke sana menikmati libur akhir tahun sekolah. Aku ajak dia mengelilingi pulau kecil itu. Menyaksikan burung-burung bangau hinggap dan terbang. Melihat bangau-bangau kecil yang mencicit berlatih terbang.

“ Kang, adek tidak pernah menikah kalau bukan dengan Kang Salman. Adek sangat cinta, kepada Kakang. Adek sangat sayang ,kepada Kakang. Percayalah Kang….! Hati Nawang hanya untuk Kang Salman seorang. Hati Nawang tidak akan adek berikannya kepada yang lain!” kata-kata Nawang waktu itu yang sampai saat ini tertanam di hatiku.

Begitu lugu dan polos ucapan-ucapan Nawang kepadaku. Dia juga menatapku dengan dalam dan mencoba meyakinkan aku kalau dia betul-betul mencintaiku. Ucapan-ucapan Nawang menyentuh perasaanku. Aku tau dia berkata tulus. Aku tau dia berkata dengan jujur, kata-kata yang diucapkan keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

”Terima kasih Nawang. Aku juga sayang… kepadamu! Aku juga cinta.. kepadamu!” Balasku dengan menatap gadis cantik itu. Aku juga tulus mengucapkan kalimat itu. Karena gadis yang aku cinta hanya dia, Nawang Sri Hastuti putra Bapak Jamil, seorang petani kaya di desaku.

Begitu indah hari-hariku saat masih bersama Nawang. Aku sering mengajak jalan-jalan. Terkadang ia juga yang minta aku untu mengajaknya jalan-jalan. Bahkan ibunya juga kompak. Beliau sering menyuruh aku mengajak jalan-jalan Nawang kalau ada hari liburan.

Baik libur semesteran maupun libur akhir tahun. Beliau selalu mengharap aku untuk dolan-dolan kerumahnya. Ibu Nawang mengharapkan aku menjadi menantunya. Tetapi aku belum berani. Karena waktu itu aku baru lulus Aliyah. Aku masih kepengen kuliah. Nawangpun waktu itu baru lulus Mts. Aku sepakat dengan Nawang kalau dia melanjutkan sekolahnya sedang aku kuliah. Nanti kalau sudah selesai kuliah aku akan membawa keluarga besarku ke rumahnya untuk melamar anak kedua Bapak Jamil Noto Sutanto itu .

Pada saat Nawang lulus aliyah Bapak ke rumah Nawang. Dia bermaksud meminang Nawang. Terang saja orang tua Nawang mengiyakan. Karena mereka menganggap Bapak meminang Nawang untuk aku. Saat itu Nawang juga ditanyai , ia senyum-senyum dan setuju. Ibu Nawang juga berbesar hati karena dia kira aku menepati janji. Dia kira Bapak ke rumah petani kaya itu yang menyuruh aku. Mereka sepakat pernikahan di percepat.

Nawang waktu itu mengabari aku kalau bapak kerumahnya. Begitu gembira hatiku lebih-lebih Nawang. Kemudian aku putuskan untuk pulang ke rumah. Karena waktu itu aku masih di Jogja. Setelah aku sampai rumah aku bertanya kepada Bapak apa betul ia pergi ke rumah Pak Jamil meminang Nawang untukku? Tapi, apa jawab Bapak? Bapak meminang Nawang untuk Kang Khoirun bukan untuk aku.

Setelah Nawang tahu kalau yang akan menikah dengannya Kang Khoirun bukan aku, dia protes dengan bapak dan ibunya. Namun, Bapak Jamil dan istrinya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berani menyampaikan masalah itu kepada Bapak. Dengan alasan dia pihak perempuan, pamalih. Alasan yang kedua dia mengiyakan kata-kata Bapak, “Mil… aku jaluk anakmu sing cileki yo, tak pek e mantu!”

Aku juga tidak mampu melawan keputusan Bapak. Hatiku dan hati Nawang hancur. Nawang mengajakku lari dari rumah. Dia tidak mau menikah dengan kakakku. Pergi ke mana saja yang penting dapat hidup bersamaku. Dia ingin membangun rumah tangga bersamaku. Aku bagai makan buah si malakama. Kalau aku kawin lari dengan Nawang bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan nasib Kang Khoiron? Kang khoiron lebih seorang kakak bagiku. Dia sering memberi aku uang saku. Belikan baju. Lagi pula dia berulang kali gagal masalah cinta. Umurnya hampir mendekati kepala tiga.

“Kringngngng….!

HP ku bordering. Ah sialan siapa orang yang malam-malam menelpon? Apa dia tidak tau sopan santun, apa? Apa tidak bisa menunggu besok pagi kalau ingin menyampaikan informasi? Walau menggerutu aku raih juga Hp ku yang aku taruh di atas lemari baju yang tingginya sedadaku.

“Assalamualaikum!” kataku.
“Waalaikum salam wa rohmah!”
O…ternyata Kang Khoiron yang menelponku. Ada apa malam-malam begini dia menelponku ya…?
“Ada apa Kang, malam-malam telepon, aku?”
“Man!” Suara Kang Khoirun di dalam telepon.
“Iya, kak! Ada apa?”
“Aku ingin memberi kabar gembira, Man!”
“Kabar gembira? Kabar apa Kak?”
“Akhirnya, kakak akan jadi bapak, Man!”
“Apa Kak?”
“Aku akan jadi bapak, Man! He, he, he….. !”
“Kakak akan jadi Bapa?”
“Ya, Man…!”
“Nawang…eh…Mbak Nawang hamil?”
“Iyya, Man!”
“Alhamdulillah….!” Kataku dengan menahan napas dan perasaan.
“Bak Yuu Nawang hamil empat bulan. Besok kamu pulang, yo! Karena, besok Sabtu kakak akan mengadakan selametan!”
“Sabtu kapan,Kak?”
“Ya, Sabtu depan ini!” Awas kalau tidak pulang!”
“Oh, iya, Kak! Insyaallah Salman akan pulang.”

Masih banyak lagi yang dibicarakan kang Khoirun di dalam telepon tentang dirinya, tentang keluarga dan tentang Nawang. Tetapi, Aku tidak tau harus bagaimana. Aku hanya sebagai pendengar yang setia. Kabar dari Kang Khoirun membuat aku bahagia karena kakak akan punya anak dan aku akan punya keponakan. Kabar ini juga membuat aku makin sakit hati karena Nawang sudah melupakan janji.

Nawang….! Andai saja yang jadi suamimu bukan Kang Khoirun, kakakku, pasti tidak akan begini nasibku! Pasti bayi yang kamu kandung ini adalah anakku. Tetapi masalahnya yang jadi suamimu adalah kakakku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku ya… Nawang…! Kang Khoiron pasti akan membahagiakan kamu. Dia lebih pantas jadi suamimu daripada aku. Kang khoirun orangnya lempeng galeng. Pekerja keras. Agamanya tidak kalah dengan aku. Bahkan sebelum menikah dia sudah mampu membeli sawah. Membangun rumah. Dia juga sudah menyempurkan Islamnya dengan menunaikan haji ke Makkah dengan uang sendiri.

Niatku jauh-jauh dari Pati sampai Madura ini karena aku ingin menutup dan membalut lukaku. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagi orang yang patah hati. Satu tahunan aku mengasingkan diri di sini, di Pulau Garam ini demi untuk memadamkan api. Kalau aku pulang memenuhi keinginan Kang khoiron, haruskah luka yang sudah aku tutup harus menganga lagi? Haruskah api yang aku padamkan harus aku sulut lagi?

Pak Guru TopS merupakan nama pena penulis. Pria kelahiran Pati, 11 Februari 1975 ini memiliki nama Sutopo Saryani. Setelah lulus MA Raudlatul Ulum Guyangan Trangkil Pati melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Agama Islam Pati, namun tidak sampai lulus. Kemudian beliau kuliah di IKIP PGRI Semarang (Sekarang UPGRI) mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Setiap harinya penulis berprofesi sebagai Guru bahasa Indonesia di almameternya yakni, di Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan Trangkil Pati. Dalam kesibukannya sebagai pengajar beliau menyempatkan untuk menyalurkan hobinya menulis cerpen, puisi, novel dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *