UCAPAN PERAYAAN HARI NATAL: PERSPEKTIF JALAN TENGAH

Tradisi perayaan natal bagi umat Kristiani sudah menjadi sebuah tradisi di seluruh negara yang penduduknya terdapat penganut agama kristen. Tak terkecuali  di negeri yang katanya seluruh rakyatnya dituntut untuk hidup makmur menjalin kerukunan di tengah-tengah keberagaman budaya, adat, suku, ras dan agama, itulah Indonesia. Ragam bentuk perayaan hari natal membuat para agama-agama non Kristen ikut andil dalam memberikan ucapan sebagai bentuk toleransi dan penghormatan mereka terhadap saudara-saudara satu tanah air atas hari raya agama umat Kristen ini. Walaupun hanya sekedar pengucapan dan tidak sampai pada andil dalam perayaannya, situasi ini memunculkan berbagai perbedaan dalam pemaknaan pengucapannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa ucapan-ucapan hari raya natal oleh umat kaum non Kristen dianggap sebuah ancaman terhadap aqidah umat Islam. Tidak jarang perdebatan tersebut memunculkan sebuah percekcokan bahkan tuduhan kafir.

Oleh karena itu, penulis akan mencoba memaparkan beberapa pandangan mengenai pengucapan Hari Raya Natal terhadap kaum Kristiani dengan menyertakan beberapa pijakan di dalamnya.

Di dalam ayat Al Qur’an dan Hadis tidak ditemukan penjelasan yang secara jelas dan tegas menerangkan tentang keharaman ataupun kebolehan dalam mengucapkan ucapan-ucapan hari Natal, sehingga kondisi ini masuk pada kategori permasalahan yang sifatnya ijtihadi sehingga jika didasarkan pada dalam satu kaidah ijtihadi, permasalahan ini tidak diperkenankan untuk diingkari ataupun ditolak karena posisinya yang masih diperdebatkan sedangkan permasalahan yang masih dalam kategori ijtihadi tidak boleh ditolak maupun diterima. Berbeda dengan permasalahan yang sudah disepakati. Maka hal itu boleh ditolak. Dengan demikian, para ulama yang membolehkan atau mengharamkannya, mereka hanya berpijak pada generalitas ayat ataupun Hadis yang telah disinyalir terkait dengan permasalahan ini. Pada akhirnya timbullah perbedaan-perbedaan diantara mereka.

Pengucapan Hari Raya Natal dapat dijadikan sebagai bentuk penghormatan dan toleransi terhadap saudara satu tanah air mengingat kita hidup di negara yang bukan hanya satu agama saja, bukan hanya agama Islam tetapi dengan berbagai perbedaan agama, budaya, suku, ras dan lain sebagainya. Maka boleh-boleh saja ketika kita akan mengucapkan ucapan-ucapan natal dengan tidak menganggu posisi akidah dan keimanan kita. Dalam QS. Maryam:33, secara tekstualis ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Isa mengeluarkan ucapan-ucapan selamat atas hari kelahirannya. Mengingat Hari Raya Natal yang notabenya merupakan hari raya kelahiran, maka hari kelahiran Nabi Isa tersebut kemudian dijadikan umat Kristiani sebagai Hari Raya Natal atas lahirmya anak Tuhan. Namun kita sebagai umat muslim harus tetap berkeyakinan bahwa Nabi Isa merupakan bagian dari Nabiyallah bukan anak Tuhan. Mengingat Tuhan kita Allah SWT merupakan Tuhan Yang Maha Esa, tidak memiliki anak dan tidak diperanakkan. Sedangkan dalam Tafsir Ibn Katsir, dijelaskan bahwa ayat tersebut merupakan penetapan status ubudiyyah Nabi Isa terhadap Allah yakni Nabi Isa merupakan ciptaan Allah yang tentunya bisa hidup dan akan didatangi kematian lalu dibangkitkan kembali kelak sebagaimana makhluk-makhluk Allah yang lain. Akan tetapi makhluk-makhluk Allah mendapati kondisi-kondisi kehidupan yang buruk, Allah kemudian memberikan keselamatan dan kemudahan bagi Nabi Isa sebagaimana istimewanya Nabi Isa sebagai Nabiyyullah. Dalam akhir dari penafsiran ayat tersebut juga diakhiri dengan kalimat “ semoga keselamatan senantiasa tercurahkan keada beliau (Nabi Isa).”

Nabi Muhammad sendiri tidak pernah melakukan pengucapan-pengucapann terhadap hari raya umat Nasrani, padahal beliau hidup pada masa bersamaan dengan kaum Nasrani, maka dari itu dengan mengambil jalan tengah, ucapan-ucapan hari Natal dapat direpresentasikan sebagai bentuk penghormatan dan toleransi kita dengan saudara umat satu tanah air. Sehingga pandangan tentang kebolehan atau pengharaman dalam mengucapkan hari Natal dikembalikan pada kondisi kekuatan akidah keimanan si pengucap serta sudut pandang yang dihasilkan oleh pribadi masing-masing. Jika menyadari bahwa kondisi akidah keimanan sedang tidak stabil dan mudah tergoyahkan, alangkah baiknya untuk menjauhkan dari hal-hal yang bersangkutan dengan perayaan hari Natal. Selain itu, ucapan-ucapan hari raya Natal juga dapat dijadikan sebuah representasi dari perintah Nabi untuk tetap berbuat baik, tidak menyakiti dan bersikap toleran terhadap umat non muslim.

Sedangkan dalam memahami pengharaman ucapan-ucapan Hari Raya Natal dengan memijakkan pada dalil-dalil tertentu, hendaknya dengan memperhatikan etika-etika berdalil yang bersumber Al Qur’an dan Hadis. Mengingat kita hidup di zaman yang sudah terlampui jauh dari zaman Rasulullah disertai dengan perkembangan zaman dan berbedanya kondisi keadaan, seingga diperlukan pengkontekstualisasian terhadap Al Qur’an dan Hadis. Karena memahami Al Qur’an dan Hadis hanya dari segi tekstualis bukan termasuk etika-etika yang baik dalam mengeluarkan dalil.

Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa  pandangan tentang kebolehan dan keharaman dalam ucapan perayaan hari Natal diharapkan tidak menimbulkan persengketaan dan rasa saling menyalahkan. Mengingat hal tersebut merupakan permasalahan yang masih bersifat ijtihadi (diperdebatkan). Yang terpenting adalah masih adanya sikap toleran dan menghormati disetiap perbedaan yang muncul dengan tidak menjatukan pendapat antara satu sama lain.

Sumber Gambar: http://bit.ly/2Qj5tlS

Tentang Penulis

Nurul Endah Safitri, atau akrab disapa Endah, lahir di Jepara 25 Desember 2000. Penulis merupakan salah satu mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Prodi Ilmu Alqur’an dan Tafsir. Berdomisili di Ponpes Al Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Related posts

Leave a Comment