Teman dan Harga Teman

Oleh: Iqbal Fahreza

Suatu ketika saya mendapat sebuah permintaan dari salah satu teman saya untuk dibuatkan gambar-gambar. Dia sedang dalam masa pengerjaan tugas akhir kuliahnya. Dalam pengerjaan tugas akhirnya, dia membutuhkan storyboard (sketsa kasar yang biasanya menjadi kerangka kira-kira bagaimana cerita akan dibuat, biasanya digunakan ketika akan membuat komik atau film). Sedangkan dia tidak bisa menggambar untuk membuat storyboard. Kemudian dia menghubungi teman saya, yang juga teman saya, untuk dimintai tolong dibuatkan gambar-gambar untuk storyboard pelengkap tugas akhirnya. Namun teman saya yang dia mintai tolong menolak dan menyarankan untuk meminta tolong kepada saya.
Dia meminta dua puluh gambar untuk mengilustrasikan dua puluh poin adegan. Saya ingin menolak awalnya, namun saya jadi tidak tega karena dia tiba-tiba bercerita tentang sedikit kehidupannya yang dia hubung-hubungkan dengan apa yang dia mintakan kepada saya. Alasan lain mengapa saya ingin menolak pada awalnya karena dia meminta kedua puluh gambar tersebut selesai dalam tiga hari. Mungkin bagi yang sudah profesional dalam hal gambar-menggambar menyelesaikan dua puluh gambar dalam tiga hari itu mudah, namun bagi saya hal itu sangat berat. Pada akhirnya permintaan dia saya terima, mau bagaimana lagi. Memang susah jika dimintai sesuatu atas nama teman.
Lalu saya mengerjakan gambar-gambar yang dia minta. Pada hari ketiga pengerjaan tiba-tiba saya jatuh sakit. Teman dekat saya bilang kalau saya terforsir karena memaksakan diri untuk menyelesaikan dua puluh gambar tersebut dalam tiga hari. Mungkin teman dekat saya benar. Kalau saya ingat, ketika saya mengerjakan dua puluh gambar tersebut, saya jadi kurang makan dan tidur hingga akibatnya saya jatuh sakit pada hari ketiga pengerjaan. Sedangkan masih ada beberapa gambar yang belum saya kerjakan. Lalu saya menghubungi teman saya, yang meminta bantuan saya menggambar storyboardnya, untuk meminta perpanjangan waktu pengerjaan karena saya jatuh sakit.
Singkat cerita, saya berhasil menyelesaikan dua puluh gambar tersebut dan menyerahkannya kepada teman saya. Dia memberi saya sebuah amplop, semacam upah katanya. Saya membuka amplop itu ketika sedang nongkrong bersama teman-teman dekat saya. “Paling lima puluh ribu”, celetuk salah satu teman dekat saya ketika saya akan membuka amplop itu. Namun, di sini muncul plot twist. Amplop itu berisi dua puluh ribu rupiah. Tidak kurang dan tidak lebih. Semua teman dekat saya yang saat itu nongkrong bersama saya tertawa. Saya juga ikut tertawa. Pengerjaan dua puluh gambar yang membuat saya jatuh sakit mendapar harga dua puluh ribu rupiah. Jika dikalkulasi, dua puluh ribu rupiah hanya bisa untuk membeli satu pensil dan dua drawing pen beda ukuran.
Harga Teman
Saya menceritakan hal tersebut kepada beberapa teman saya yang lebih profesional dari saya dalam dunia gambar, komik, dan ilustrasi. Dan semuanya memarahi saya. Awalnya saya tidak menghiraukan tentang saya yang hanya diupahi dua puluh ribu rupiah. Namun karena saya mendapat banyak kritikan dari teman-teman saya yang lebih profesional dari saya, bahkan teman saya yang tidak menekuni bidang yang sama dengan saya juga ikutan, tidak tahu mengapa saya menjadi terpengaruh. Teman dekat saya bahkan mengabadikan cerita saya tersebut dalam blognya.
Saya menjadi berpikir bahwa sepertinya banyak orang yang memanfaatkan temannya yang sedang membuka usaha dengan membawa ‘atas nama teman’. Yang lebih parah adalah ketika ada orang yang tidak saya kenal tiba-tiba meminta untuk digambarkan dan menawar harga yang sudah ditetapkan dengan alasan “Cuma begini saja kok mahal”, bahkan ada yang meminta gratis. Pernah sekali teman facebook saya membagikan sebuah screenshot dari inbox dia sendiri yang memperlihatkan percakapannya dengan seseorang, yang kata dia tidak dikenalnya, meminta digambarkan dengan gratis kepada teman facebook saya tersebut. Ketika teman facebook saya memberikan daftar harga untuk jenis-jenis gambar yang bisa dia kerjakan, orang yang meminta digambarkan menjawab “baru tahu aku kalau minta digambarin itu bayar”. Bukankah ini ironis?
Berbicara soal harga teman, saya jadi teringat ketika orang tua saya dulu masih membuka usaha toko kelontong. Sering kali tetangga-tetangga berhutang ketika belanja kebutuhan di toko kelontong milik orang tua saya. Anehnya, ketika mereka belanja di toko kelontong lain mereka bisa membayar dan tidak berhutang. Belanjanya di toko lain, ngutangnya di warung kelontong orang tua saya. Dan hal itu menjadi salah satu alasan orang tua saya memilih untuk menutup toko kelontongnya sampai sekarang.

Gambar : link

Mas Sweta Kartika, seorang komikus muda dan terkenal di Indonesia, pernah mengunggah tentang “harga teman” di akun instagram miliknya yang diunggah pada tanggal 31 Agustus 2016. Dia mengungkapkan bahwa harga teman artinya anda bersedia membayar mahal atas kerja keras teman anda sebagai bentuk penghargaan pertemanan. Saya sangat setuju. Ibaratnya begini, jika teman kita membuka usaha dagang, maka kita harusnya memborong dagangan teman kita, atau paling tidak membantu promosi, bukan meminta gratis bahkan sampai memaksa. Jika teman kita memang ingin memberi salah satu dagangannya secara gratis, maka tanpa kita minta pun kita akan diberi. Tapi bukan berarti kita bisa dengan seenaknya meminta gratis atas dagangan teman kita dengan atas nama ‘pertemanan’.
Sebagai penutup, jika memang kamu menghargai temanmu atas usahanya maka bayarlah sebagaimana harga yang dia tawarkan atau bahkan lebih. Ini bukan soal harganya atau usaha yang temanmu lakukan, tapi ini soal pertemanan.

Yogyakarta, 02 Mei 2019

Tentang Penulis

Nama saya Iqbal Fahreza (nama pena). Saya berasal dari daerah utara di pulau Jawa. Saya sedang belajar membuat komik. Sudah. Tidak usah banyak-banyak. Terima kasih.
#gerakankomikbosok

Gambar : Link

 

 

Related posts

Leave a Comment