SIAPAPUN BISA MENJADI APAPUN

(catatan saya ketika menonton wawancara Husni Assaerozi di TV9 Nusantara)

Oleh: Iqbal Fahreza

Siapa yang mengira bahwa seorang santri pun bisa menjadi komikus. Itu yang saya rasakan ketika saya mengenal mas Husni Assaerozi. Dia adalah seorang santri di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya. Saya tak menyangka bahwa dia adalah kakak kelas saya semasa di Madrasah Aliyah ketika saya masih nyantri di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, Trangkil, Pati. Rumahnya pun berada di desa Guyangan, sangat dekat dengan sekolah dan pesantren tempat saya nyantri dulu.

Sekarang dia menjadi seorang komikus yang bisa dibilang terkenal. Apalagi ketika komik Si Toyeb: Suka Cita Anak Pesantren beredar di toko-toko buku (tidak terkecuali toko buku online), semua orang mulai dari santri sampai ustadz berbondong-bondong untuk membeli komik tersebut. Karena memang (sepertinya) baru kali ini komik yang mengangkat kehidupan di pesantren berada di rak-rak Gramedia dan Togamas. Tentunya hal ini adalah fenomena yang anti mainstream.

Beberapa bulan lalu, tepatnya beberapa hari sebelum tanggal 16 Desember 2018, saya terkejut ketika mas Husni Assaerozi memberitahu saya bahwa pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 12:30 WIB di acara Jurnal Muda di channel TV9 Nusantara ada bincang-bincang dengan narasumber dia sendiri, Husni Assaerozi. Berikut cuplikan bincang-bincangnya:

P = Presenter

H = Husni Assaerozi

P : Assalamu’alaikum, kak Husni. Selamat datang.

H : Wa’alaikumsalam.

P : Gimana kabarnya, kak Husni?

H : Alhamdulillah baik.

P : Kak Husni asli dari mana, sih?

H : Asli dari Pati, Jawa tengah.

P : Luar biasa, dari Jawa tengah ke sini (saya tidak tahu yang di maksud “ke sini” itu ke Surabaya atau ke Studio TV9 Nusantara).

H : Dari Jawa tengah, lulus Madrasah Aliyah langsung nyantri di Surabaya.

P : Nyantri di mana?

H : Di Kedinding, Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH Asrori Al-Ishaqi (Ponpes Al-Fithrah Surabaya).

P : Berarti sudah berapa tahun di sini (di Surabaya)?

H : Di sini… 6-7 tahunan.. ya.. 7 tahun.

P : Kita Kembali ke komik nih, masalah Si Toyeb, karena yang terkenal Si Toyeb ini, kenapa namanya Toyeb?

H : Toyeb sendiri ini artinya kan “baik”. Terus waktu dulu, sebelumnya, waktu sekolah di Pati sudah membuat komik di majalah sekolah, itu saya kasih judul Si Jalal. Waktu membuat lagi di Surabaya, di buletin Al-Fithrah, Al-Fithrah kan ada majalahnya tapi gak ada komiknya, nah.. ini kesempatan untuk mengirim karya komik ke (majalah) pondok. Ternyata, Alhamdulillah langsung keterima. Tapi saya bingung, pakai karakter yang dulu lagi atau… akhirnya cari karakter lagi. Tiba-tiba teman saya nyeletuk “Toyeb lak wes” pakai bahasa Jawa. Saya pakai Toyeb.

P : Berarti sekarang santri-santri manggilnya (manggil mas Husni) si Toyeb, nih?

H : Oh..nggak hehehe. Tapi kebanyakan setelah saya membuat ini (komik Si Toyeb), kan sudah sejak majalah Al-Fithrah edisi 29 sampai edisi 87 atau 88 di pondok, berarti sudah 5 tahunan. Akhirnya karena sering bikin karakter Toyeb, beberpa orang manggil saya Toyeb.

P : Kalau kita bahas masalah komik nih, sejak kapan sih mulai ngerjain komik? Apa dari kecil memang hobi baca (komik) terus pingin jadi komikus? Atau bagaimana?

H : Kalau dari kecil memang suka nggambar. Tapi kalau komik gak tau caranya. Tapi ya bingung, masalahnya komik itu kan cerita yang bergambar, itu belum bisa (waktu masih kecil). Waktu kelas 2 Madrasah Aliyah, akhirnya ada peluang menjadi ilustrator dan membuat komik di majalah sekolah, akhirnya saya membuat komik. Jadi ya mulai kelas 2 Madrasah Aliyah tadi. Sampai sekarang.

P : Ini Si Toyeb mau lanjut Si Toyeb 2 atau gimana?

H : Iya SI Toyeb 2. Ini kan rencananya trilogi, Si Toyeb: Suka Cita Anak Pesantren, Si Toyeb: Suka Cita Remaja Pesantren, Si Toyeb: Suka Cita Alumni Pesantren. Jadi nanti trilogi. Buku yang pertama itu anak 13 tahun, awal-awal nyantri, baru masuk. Bagaimana dilemanya santri baru. Yang kedua, Si Toyeb: Suka Cita Remaja Pesantren ini tentang dilemanya seorang remaja yang waktu itu gejolaknya masa-masa muda, ramai-ramainya kumpul sama teman, pergaulan. Itu gejolaknya di buku 2. Nah yang ketiga, Si Toyeb: Suka Cita Alumni Pesantren. Tentang kisah dari beberapa santri yang lulus itu seperti apa. Ada yang seperti ini, ada yang seperti itu.

P : Yang luar biasa adalah salah satu anak yang membuat skripsi menggunakan (objek penelitian) SI Toyeb ini. Bisa diceritakan seperti apa kok bisa dijadikan skripsi?

H : Ini kan baru 6 bulanan Si Toyeb rilis. Selama ini sudah ada 3 Mahasiswa yang menjadikan (komik ini) skripsi. Salah satunya dari Ma’had Ali itu mau menjadikan jurnal tugas akhir di Ma’had Ali. Jadi total ada 4. Untuk yang sudah jadi ini (yang sudah dishare di instagram Si Toyeb) mahasiswa UNISA, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan mahasiswanya menjadi mahasiswa lulusan terbaik.

P : Ada gak sih pemikiran dari kak Husni sendiri tentang komik tapi berdakwah juga?

H : Kalau dikatakan dakwah ya mungkin yang menilai orang lain. Tapi kalau dari saya berkarya karena senang. Senang kalau misalnya berkarya kan kita harus mempertimbangkan bagaimana karya ini ketika orang membacanya bisa mendapatkan ilmu, positif, senang, hiburan, dapat banyak hal.

P : Kalau soal Si Toyeb, respon dari pembaca apa yang sering mereka sampaikan?

H : Respon dari pembaca kebanyakan mereka bernostalgia. Misalnya mereka yang sudah berumur di atas 30, mereka ada yang sampai terenyuh karena kangen masa-masa mondok. Teman-teman yang dulu berjuang bareng di pesantren, sekarang sudah jadi orang. Ya teringat jaman dulu tidur diobrak, tidur bareng, makan bareng.

P : Si Toyeb sendiri ceritanya berawal dari pengalaman pribadi atau gimana nih?

H : Banyak yang bilang kalau ini pasti pengalaman pribadi komikusnya (“oh iya ini adegan si Toyeb yang nakal pasti pengalaman pribadi ni hehehe” sahut presenternya). Hehehe nggak, padahal kan saya pendiam hehehehe. Gini, ini kan memang di desa, rumah saya deket banget sama pesantren (lingkungan pesantren). Dari TK sampai lulus Madrasah Aliyah sekolah di pesantren (dekat rumah) di Pati, di desa Guyangan, di Raudlatul Ulum. Belajar komik di pesantren di sana, terus pindah ke Surabaya juga (nyatri). Karya yang baik (kan) yang dihasilkan dari sekitar dulu, apa yang kita tahu, apa yang di sekeliling kita. Ini seperti karya yang riil, yang mendekati kejujuran. Jadi ini sebagian dari pengalaman pribadi, sebagian dari teman, sebagian dari tanya-tanya, sharing-sharing, dan lihat dari akun-akun (santri) di media sosial.

P : Nah kalau referensi, kak Husni dapat dari buku apa? Atau sosial media?

H : kebanyakan sosial media. Saya lihat akun-akun santri, meme santri.

P : Untuk Si Toyeb ini sudah berapa kali cetak?

H : Karena masih 6 bulan, jadi masih belum ada kabar cetak ulang. Masih proses.

P : Buku Si Toyeb ini dipasarkan di mana, sih?

H : Dipasarkan di seluruh Gramedia dan Togamas, di toko online juga ada. Pesan sama Si Toyeb (akun Si Toyeb) juga ada, dapat diskon hehehe.

P : Untuk kak Husni sendiri sebagai penulis, kreator, dan yang membuat Si Toyeb ini, yang paling menarik dari Si Toyeb ini apa?

H : Si Toyeb ini saya anggap sebagai diri sendiri, adik, anak, sebuah sosok yang mewakili santri di dunia maya. Santri itu seperti ini. Tapi juga tidak bisa satu karakter mewakili seluruh santri, jadi saya membuat karakter-karakter pembantu. Ada santri yang seperti ini, seperti ini, seperti ini.

P : Selain ini kan (di komik Si Toyeb) ada barcode yang berisi info tambahan, itu terpikir dari mana?

H : Kan banyak hal-hal yang di pesantren itu sebenarnya bermanfaat sekali. Jadi bukan hanya segi pahala tapi juga segi ilmiah. Contoh makan pakai 3 jari (jempol, telunjuk, dan tengah), ini kan bukan hanya sunah rasul tapi juga ada penelitian yang mengatakan bahwa jari-jari kita, jempol-telunjuk-tengah, ini ada enzim-enzim. Kalau makan pakai 3 jari ini bisa mengikat bakteri yang ada di dalam makanan. Seperti itu. Kayak tidur miring ke kanan itu ternyata manfaatnya untuk tubuh.

P : Kalau dari komik Si Toyeb nih kak Husni, ini ada crew atau memang totlitas kak Husni mengerjakan semua sendiri?

H : Ini pastinya ada banyak tangan, ada crew. Kalau untuk cerita dan gambar ya saya, tapi untuk pewarnaan dan lainnyaitu dari pihak penerbit semua yang menyediakan.

P : Selama pengerjaan Si Toyeb ini ada kesulitan gak?

H : Kesulitannya sih gak ada. Karena memang saya kan sudah membuat komik beberapa. Menurut saya membuat komik yang membuat saya ringan, enak, jujur ya sSi Toyeb ini. Karena kebiasaan saya diilustrasikan.

P : Mengapa sih ingin menyampaikan dakwah memalui komik?

H : Banyak Hal. Kalau saya kan menjadi pedoman saya berkarya dari sabda Imam Ghazali mengenai “jika bukan anak raja, bukan anak ulama besar, maka menulislah”. Sama Sahabat Ali Bin Abi Thalib, “semua penulis akan meninggal, hanya tulisannya yang akan abadi sepanjang masa, maka tulislah sesuatu yang bermanfaat dan membahagiakanmu di akhirat kelak”. Pinginnya karya-karya ini bisa membahagiakan di suatu hari nanti.

P : Selain Si Toyeb, kak Husni bikin komik lain kan, (salah satunya) “Inspirasi Kearifan Hati: 22 Tokoh Islam Kekasih Allah, kalau yang ini ceritanya dari mana?

H : Ini ceritanya saya ambil dari kitab Risalatul Qusyairiyah. Kitab ini kan di bab-bab terakhirnya kan tentang kisah para ulama-ulama. Saya tertarik sekali ketika ngaji dulu saya kepingin banget menceritakan kisah-kisah ini ke teman-teman atau ke orang-orang “ini loh ceritanya menyentuh banget”.

P : Untuk komik yang satunya (lagi) ini, “Sejuknya Hati Hamba Ilahi” ini tentang apa?

H : Kalau yang ini tentang mengenal kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athoillah. Kitab Al-Hikam kan cenderung terkesan kitab tasawuf yang lumayan berat jika langsung dikaji. Nah, mungkin ini (komik Sejuknya Hati Hamba Ilahi) (bisa) menjadi pengantar untuk mempelajari (kitab Al-Hikam) biar lebih agak ringan.

P : Untuk selanjutnya, lagi mengerjakan komik apa ini? Atau ada rencana membuat komik apalagi?

H : Rencananya sekarang mau mengerjakan komik tentang birrul walidain, sama Si Toyeb buku ke-2.

P : Si Toyeb buku ke-2 mau membawa tema apa?

H : Ya tadi, si Toyeb remaja, umur 16 tahun. Gejolak anak remaja yang berada di pesantren. Biasanya kan pingin seperti anak-anak di luar, motor-motoran, jiwa-jiwa membara, gak boleh bawa HP.

P : Terakhir nih kak Husni, ajak santri dan juga generasi muda semua di Indonesia untuk bisa kreatif?

H : Ya. Ini khususnya bagi teman-teman santri. Menulis kan tradisi intelektual muslim. Ulama-ulama terdahulu keseluruhan punya karya, dan ini tugas kita generasi-generasi muda khususnya para santri agar selain belajar dan mengamalkan apa yang kita tahu ya menulis ini, sebagai tardisi intelektual kita bagi seorang pelajar.

P : Baik. Terima kasih kak Husni atas waktunya.

H : Sama-sama.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Ini merupakan sebuah pemicu bagi semua orang-orang, khususnya bagi santri-santri ataupun yang sudah alumni santri untuk berkarya. Karena berkarya itu menyenangkan.

Saya jadi teringat dengan kalimat dari pak Win, salah satu ilustrator dan komikus dari cerita-cerita legendaris Kho Ping Hoo atau Asmaraman S., yang selalu dia katakan di grup whatsapp (yang saya masuk di dalamnya) yang isinya master-master komik dan ilustrator (kecuali saya), “teruslah gelisah yang menggembirakan’. Memang kalimat itu terasa ambigu tapi saya menyetujui. Karena dengan gelisah, sebuah karya bisa diciptakan, sehingga berakhir gembira karena kegelisahan bisa tertuang.

Saya teringat juga dengan kalimat-kalimat dari pak Iman Budhi Santosa, “cateten, cateten, catenen, mboh mengko dadine opo seng penting cateten” (“Tulislah, tulislah, tulislah, masalah nanti tulisanmu jadi apa, entah cerpen atau esai atau yang lain, yang penting tulislah”), dan juga kalimat beliau “aku nulis iki ben awakmu kabeh neruske tulisanku iki” (aku menulis ini supaya kamu semua meneruskan tulisanku ini).

Jadi, marilah berkarya. Karena karya kita akan menjadi pemicu generasi selanjutnya untuk berkarya.

Berkarya dan bersenang-senanglah!

Perpustakaan Kota Yogyakarta, 19 Desember 2018

Related posts

Leave a Comment