Review Rentang Kisah: Self-Love

Judul Buku : Rentang Kisah
Penulis : Gita Savitri Devi
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : Cetakan keenam, 2018
Halaman : viii +208

Hujan deras menerpa kota Jogja membuat penghuninya hanya bisa beringsut berlindung dari air yang konon katanya mengandung kenangan. Di sinilah aku bersama sepupuku. Kita menjebak diri di perpus kota Jogja dengan niat mulia, Tugas. Memang benar, sesampainya kami di perpus kami langsung berburu buku yang kami perlukan dan membacanya di kursi baca. Kebetulan kami mendapat ruang kosong di pojok sebelah layanan sapa ratu. Tepat di bawah AC. Aku sendiri menjaring tiga buku yang ingin kubaca-baca sebagai sumber tugas UAS (Ujian Akhir Semester).

Namun di detik selanjutnya kepalaku berat, ditambah rasa ngantuk yang tak tertahankan. Akhirnya aku mengembalikan buku-buku tersebut dan mengambil buku secara random. Teteretett. Ternyata aku mengambil “Rentang Kisah”. Buku yang berisi perjalanan hidup GitaSav yang ditulis sendiri olehnya, katakanlah itu Otobiografinya. Sebelum memegang buku ini aku telah ‘mengenal´ beliau dari media, halah siapa sih yang nggak kenal GitaSav gitu kan? Seorang influencer cantik yang eksis di media sosial seperti instagram dan juga youtube. Kontennya berisi tentang kesehariannya hidup di jerman. Bahkan sekarang sudah menikah dengan mahasiswa Jerman asal Indonesia juga, namanya mas Paul.

Buku ini berkisah tentang perjalanan hidup Gita mulai dari SMA yang penuh suka cita dan duka sampai struggle di Jerman. Diceritakan dengan bahasa yang santai, membuatku betah membacanya dalam waktu sekitar dua jam saja sampai selesai. Buatku ini sih merupakan rekor. Sebab, setelah mondok dulu aku sudah tidak pernah membaca novel sekali duduk. Sekarang aku mampu membaca kisah GitaSav ini sekali duduk dong yeaayy..

Entah apa yang diletakkan GitaSav di bukunya? Membaca buku ini serasa tertampar berkali-kali. Bagian yang paling kusuka adalah Bab 20, yang menceritakan hiruk pikuknya kehidupan di umur dua dekade itu. Kesimpulan akhirnya adalah, umur 20 tahun adalah umur dimana kamu akan menghadapi sesuatu yang begitu besar. Entah gejolak di dalam diri, dan pengaruh dari luar. Tahun ini adalah tahun gradasi yang akan mengantarkan dirimu menuju dewasa sepenuhnya. Selain itu, tahun ini pula aku akan menghadapi umur itu. Hey, I’m not teen anymore .

O iya, dan di akhir buku ini diselipkan beberapa tulisan Gita di blog pribadinya. Salah satunya berjudul Being Muslim in a Non Muslim Country . Sesuai judulnya, di sini ia menggambarkan dunia Islam di Jerman. Bahkan dia menemukan keindahan dibalik kesempitan minoritas. Any of us should stop to playing the victim. Because remember, not only the majorities who have respect us. We, minorities, must do the same . Jangan mentang-mentang kamu minoritas lantas kamu minta dispesialkan, kamu harus menghargai mayoritas juga. Kisah ini mengingatkanku tentang temanku yang non-muslim, “aku ga suka e yang pada izin salat ketika mau rapat. Ya kan udah tau rapat jam empat sore. Tapi jam 16.00 masih aja salat. Kita kan sama-sama nunggu to?”.

Whatever that may come, you and I just need to do well, be nice to ourselves, to people around us. Because we are given only one chance. We only live once. The key to live a happy life is to always be grateful and don’t forget the magic word ikhlas, ikhlas, ikhlas. (Gita Savitri – Rentang Kisah)

The last, this is a great book for you. You must define ur self to know who you are and how you are! Selamat membaca..! [*]

Tentang Penulis :

Seorang mahasiswi semester awal yang kecanduan pada radio. Saat ini sedang menempuh studi di Universitas keguruan no.1 karena bercita-cita menjadi guru fisika yang muridnya tidak ada yang membaca novel saat pelajaran berlangsung. Sekarang namanya Rara, jika ingin bersapa silahkan hubungi Salsabilafutura51@gmail.com.

sumber : Link

Related posts

Leave a Comment