Panggilan Hijrah

Sumber Gambar : https://bit.ly/2Z27J8d

Dari Sahabat Umar bin Khaththab ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya sesuai ke mana dia hijrah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Teringat kisah nabi Muhammad beserta para pengikutnya ketika diusir secara paksa oleh penduduk Makkah. Berbagai bentuk kejahatan telah menimpa mereka. Mereka dihantam berbagai cobaan yang memaksa mereka meninggalkan agama Islam. Namun mereka menolak dan lebih memilih disiksa daripada meninggalkan agama. Pada akhirnya, hijrah yang dipilih untuk mengakhiri semua siksaan dan penderitaan mereka.

Rasulullah SAW sangat sedih ketika meninggalkan kampung halamannya. Dia meninggalkan kampung bermainnya dengan sangat terpaksa. Beliau berkata “Demi Allah, sungguh engkau adalah bumi Allah yang paling baik, dan tempat yang paling aku cintai. Demi Allah, kalau bukan karena pendudukmu mengusir aku, aku tidak akan meninggalkanmu.” (Musnad Imam Ahmad, 4/13; Sunan Al-Tirmidzi, No. 3295).

Di akhir cerita, Rasulullah datang kembali ke Makkah bersama 220.000 orang mukmin. Semuanya telah menyakini kebenaran agama Islam dan memeluknya. Setiap mereka bersedia mati demi mempertahankan agama Islam dan membela nabi Muhammad SAW.

Mereka telah memperoleh tujuan dari hijrah yang dilakukannya yaitu mengembangkan ajaran agama Islam. Maka benarlah hadis yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa setiap orang yang berhijrah akan mempengaruhi tindakannya ke depan. Jika ia berniat membumikan agama Islam, maka fokus utamanya adalah mencari solusi-solusi atas problematika Islam. Namun, jika niatnya karena harta dan wanita, maka hidupnya difokuskan untuk mencari harta dan wanita tersebut.

Hal inilah yang sedang dialami oleh jutaan jemaah haji di Makkah. Mereka berhijrah dari kampung halaman untuk membawa bekal ke kampung halaman. Bekal yang mereka bawa bukan hanya sekedar makanan dan minuman saja. Namun kesalehan akhlak dan ketaatan beribadah yang akan terus menerus diamalkan sampai akhir hayatnya.

Kita semua telah fasih dengan makna rentetan ibadah haji. Semua rentetan haji itu mengandung makna spiritual dan sosial yang tinggi. Semua itu untuk membangun karakter yang lebih baik bagi pelakunya.

Menurut Islam Jawa, haji tidak lain adalah olah spiritual. Karena jika haji digunakan sebagai kunjungan ke Makkah saja semua orang juga bisa melakukannya. Setiap hari, setiap bulan, atau kapan saja semua orang bisa datang ke Kota Makkah. Akan tetapi yang lebih penting adalah memaknai Makkah sebagai tujuan dari hijrah. Makkah bukan hanya sebatas kota yang ada di Arab Saudi, tetapi menjadikannya sebagai spirit manusia untuk meraih kesejatian hidup dengan perilaku bermoral.

Ketika sudah sampai di Makkah, semua orang harus meletakkan segala bentuk keburukan yang selama ini terus menerus dikerjakannya. Membuangnya jauh-jauh sehingga tidak akan pernah lagi ditemukan sehabis pulang ke kampung halaman. Tujuan kita hanya satu yaitu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan begitu kita sanggup melakukan apa saja yang diperintahkan dan meninggalkan apapun yang menjadi larangan-Nya.

Keyakinan berani mati dalam kebenaran, sabar, dan ikhlas menjalani hidup di dunia dimana ruh masih terpenjara dalam badan wadog ini. Hidup ikhlas adalah hidup yang tidak terkontaminasi nafsu berebut kuasa, harta, dan kelezatan/kenikmatan hidup di dunia (Chodjim, 2002). Oleh karena itu, keikhlasan menjalani hidup menjadi salah satu bentuk hijrah dari ibadah haji. Untuk mendapatkan keikhlasan diperlukan kecerdikan untuk mengendalikan hawa nafsunya.

Meskipun di lingkungan terdapat berbagai macam godaan, namun itulah yang harus dilalui untuk memperoleh hati yang bersih. Hati terbebas dari segala iri, dengki, tamak, dan penyakit hati lainnya. Menjadikan agama sebagai penopang kehidupan sosial dan bermasyarakat. Semua itu demi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan penuh kerukunan.

Ibadah haji akan menggiring pelakunya menjadi lebih humanis dan peduli kepada sesama. Predikat haji yang disandangnya adalah anugerah yang diberikan oleh Allah sebagai simbol orang yang telah menyempurnakan agamanya. Namun yang perlu diingat adalah bagaimana menjaga anugerah tersebut agar bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan sesama. Inilah akhir hijrah dan bentuk jihad yang harus dilaksanakan setiap jemaah haji. 

BIOGRAFI PENULIS

Muhammad Nur Faizi atau akrab disapa Faizi, lahir di Pati 4 September 2000. Tercatat sebagai Mahasiswa Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang berdomisili di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Kotagede Yogyakarta.

Related posts

Leave a Comment