Ngrabuk Sengkuyungan, Malam Keakraban Ikamaru Jogja

Makrab Ikamaru 2019

Kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya” (Tere Liye dalam Hujan)

Kenangan di bulan april tentu selalu membekas di benak kita semua, bukan? Satu hari di bulan itu adalah hari yang memberikan jarak padamu dengan manusia-manusia yang memanusiakanmu. Hari dimana rasa ketidakpercayaan dan keterkejutan itu muncul. Hari dimana senyum dan tangis ingin terukir bersamaan. Hari yang tak akan dapat tergambarkan secara gamblang. Hari yang menjadi simbol dari seluruh kejadian yang terjadi dalam tahun-tahun sebelumnya.


Demi mengenang itu semua, Ikamaru Jogja secara rutin mengadakan sebuah kegiatan untuk sedikit mengobati rasa itu, Makrab Ikamaru Jogja. Pada tahun ini, Makrab Ikamaru Jogja mengangkat tema “ngrabuk sengkuyungan”. Menurut ketua panitia, Kang Faliqul Isbah, mengharapkan acara ini akan memupuk rasa kebersamaan dalam keluarga Ikamaru. Fokusnya, acara ini mewadahi adik-adik angkatan 2019 yang baru saja ‘menetas’ dari madrasah. Berada ratusan kilometer jauhnya dari kota yang panasnya sudah menjadi sebuah kenyamanan (pada masa itu), tentu memerlukan waktu untuk penyesuaian. Mulai dari cuacanya, budayanya, bahkan kebiasaannya.


Ketika matahari sudah mendekati senja, kalau kata kang Milkhansyah. Acara makrab dimulai dengan sharing-sharing sedikit, perkenalan, dan games ringan sambil menanti rembulan yang tidak tenggelam diwajahmu. Setelah jeda, istirahat, makan, kemudian jeda lagi, para anggota kembali berkumpul di pendopo untuk sharing-sharing lagi seputar ke-Ikamaru-an. Pengenalan web Ikamarujogja.com, Soko Kamaru, Gendhing Syafa’at, dan juga New Kamaru.


Semakin larut, namun semangat peserta tidak surut. Malam pensi penyebabnya. Di panggung ini, angkatan 2019 dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menampilkan sesuatu. Kelompok pertama menampilkan replika demo rakyat kecil dan ketidakadilan negeri ini yang ditutup dengan lagu tiktok terkait yang sudah meng-kuping-isasi. Kelompok selanjutnya menampilkan beberapa lagu termasuk akustik dan cuplikan lagu Maw & Wang. Last but not least, kelompok penampilan angkatan 2019 terakhir membungkus suasana mitos dengan adegan yang menyeramkan bahkan sampai menghadirkan mr. Candy yang melompat. Lalu, terakhir giliran angkatan 2018 yang tidak mau kalah. Walau mereka menjadi panitia yang memastikan acara berjalan dengan semestinya, angkatan 2018 mampu menyuguhkan sebuah drama apik yang mengisahkan sebuah keluarga yang hanya memikirkan egonya.


Malam masih panjang, agenda masih berjalan tenang. Agenda yang paling ditunggu sekaligus menjadi gong pada malam ini. Pelaporan Pertanggungjawaban dari pengurus Ikamaru Jogja 2018/2019. Kang Ulin dan Mbak Khalif selaku perwakilan pengurus menyampaikan LPJ mereka yang dipandu oleh Kang Fery Taufik sebagai moderator. Diskusi berlangsung alot, namun berujung senyum dengan tangan saling bertaut. LPJ akhirnya diterima peserta sidang, walau dengan PR. Sudah resmi usai masa kepengurusan 2018/2019.

Ayam mulai kriyep-kriyep bangun saat kami mulai ke agenda terakhir, pemilihan Ketua Ikamaru Jogja 2019/2020. Semua mata saling bertatap, melempar muka saling menyelidik untuk mendapatkan calon-calon yang akan di ajukan untuk memimpin bahtera keluarga ikamaru. Begitu banyak manusia baik yang terlalu hebat sehingga sulit untuk memutuskan. Tepuk tangan dan tetesan eluh beriringan. Pada akhirnya, alhamdulillah Kang Abdul Muis terpilih menjadi ketua Ikamaru Jogja 2019/2020. Forum pun berakhir bersamaan dengan lantunan adzan subuh yang terdengar bersahut-sahutan.


Tak berselang lama, mentari tak sabar menyambut kabar gembira ini. Beberapa memilih untuk meratakan punggung sejenak, meresapi nikmatnya lelah yang bercampur dengan bahagia. Sebagian lainnya berkumpul untuk membakar jagung sambil menanti terbakarnya langit oleh matahari. Tak ada batasan. Semua angkatan berkumpul tanpa memandang mas atau dek. Semua bergabung dan bergurau bersama setelah percakapan panas yang saling dilontarkan dalam forum semalam.


Pagi telah benar-benar pagi. Matahari tidak malu-malu lagi menampakkan sinarnya. Sesuai nada irama dari lagu yang diputarkan, semua berkumpul dan bergerak bersama di depan pendopo untuk senam pagi. Pemanasan yang mengundang gelak tawa ini di pimpin oleh instruktur senam, Kang Iqbal. Sehingga tak terasa sudah berlagu-lagu yang diputar. Kemudian dilanjutkan Outbond. Mulai dari tebak-tebakan, pencarian harta karun, pecah balon, dan yang terakhir balapan unyil. Pada game outbond terakhir ini bukan hanya angkatan 2019 yang ikut bermain. Angkatan-angkatan atas juga tidak mau kalah dan mencoba peruntungan. Namun tak ayal, permainan ini menimbulkan kecurangan-kecurangan yang malah semakin membumbui keseruan game ini.


Dilanjutkan agenda selanjutnya yaitu makan bersama, putar kado, dan foto bersama sebagai rangkaian acara penutupan Makrab Ikamaru Jogja. Kejutan dari panitia, sesi foto bersama ini diramaikan oleh warna-warni holy powder dan gas warna. Semua orang, terutama para wanita berteriak menghindar dan berlari. Apalagi sejak bermain outbond pecah balon, beberapa panitia dan angkatan atas ada yang bermain ‘outbond’ cebur kolam. Beberapa orang sudah menjadi getahnya. Sering pula, yang niat dicerburkan juga menarik orang lain pula untuk ikut tercebur.Mereka saling menipulasi untuk merekayasa korban ceburan berikutnya.


Namun sedihnya, gurauan dan gelak tawa pada hari itu harus diakhiri. Matahari dengan galaknya semakin berani untuk naik ke atas melambaikan sengatan. Mau tak mau dengan berurai lambaian tangan satu persatu kembali ke kesibukannya masing-masing. Tapi jangan khawatir, berakhirnya makrab ini bukan pertanda berakhirnya pertemuan kita. Justru dengan makrab ini, kita memupuk rasa kekeluargaan kita bersama sebagai Ikamaru Jogja. Bulan April yang lalu-lalu memang menjadi bulan perpisahan, namun selamanya kita akan tetap bersama menjadi santrinya Mbah Suyuthi. Mati urip Mbah Suyuthi, mati urip dadi santri. Lahul Fatihah.

Penulis

Seorang mahasiswi semester awal yang kecanduan pada radio. Saat ini sedang menempuh studi di Universitas keguruan no.1 karena bercita-cita menjadi guru fisika yang muridnya tidak ada yang membaca novel saat pelajaran berlangsung. Hobinya 4 aspek berbahasa: membaca, menulis, mendengar, berbicara. Boleh dipanggil Rara, jika ingin bersapa silahkan hubungi salsabilafutura51@gmail.com.

Related posts

One Thought to “Ngrabuk Sengkuyungan, Malam Keakraban Ikamaru Jogja”

  1. Suka banget sama tulisannya, ngalir gitu aja, hiperbolis penuh personifikasi. Tapi tetap ringan, benar-benar mengurai kejadian waktu itu. Relate banget sama yg Mr.Candy wkwkwkwk. Semangat terus penulis😁

Leave a Comment