Meli Perempuan Ular dari Gunung Pati Ayam

Pagi yang indah. Matahari bersinar cukup ramah. Kunikmati keindahan ini dengan jalan pagi menyusuri jalan pinggir desa dekat sawah. Jarang-jarang aku bisa menikmati pagiku seperti ini karena setiap hari digelut kesibukan dan selalu dikejar ekonomi. Ekonomi keluarga…maksudnya. He..he..he…! Tak terasa aku sampai desa sebelah. Desa kecil namun perekonomiannya mulai bangkit di tengah krisis ekonomi dan krisis kepercayaan serta krisis yang lain-lain.

“Pak Hilmi!”

Aku menoleh kepada orang yang memanggilku. Langkahnya dipercepat menghampir mendekat kepadaku.

“O, kamu to Mbak Niti!”

Enggeh, Pak!”

Yang memanggilku ternyata Mbak Niti. Penduduk desa sini. Dia kenal aku karena waktu itu aku pernah menjadi BTL. Listrik di rumahnya terpasang cepat karena biro jasaku. Aku juga kenal baik dengan bapaknya Mbak Niti, Lek Kasmani. Lek Kasmani  orangnya sangat rajin datang di pengajian-pengajian. Kata orang, Mbak Niti bisa memijat. Banyak orang mengatakan kalau dia bisa memijat itu karena dia ditempleki Jin.

“ Pak Hilmi kok jalan-jalan apa tidak mengajar?”

“Alhamdulillah, saya libur Mbak!”

“Ini kan hari Jumat?”

“Libur saya hari Jumat, Mbak!”

“O, begitu ya, Pak! Pak saya mau berbicara sesuatu, apa Pak Hilmi punya waktu?”

“Silahkan saja Mbak! Apa yang bisa saya bantu?”

“Pak, menurut banyak orang Bapak bisa mengobati orang diikuti Jin, ya!”

“Ah, Mbak Niti ini bisa aja! Kata siapa kalau aku bisa mengobati orang kena Jin?”

“Orang di desaku sudah ramai membicarakan Jenengan kok, Pak!”

“Tidak usah dibahas Mbak ah…! Gini aja, Mbak Niti tadi mau ketemu saya, mau bertanya tentang berita ini atau yang lain?”

“Ya, ada kaitannya dengan masalah ini, Pak!”

Aku diam. Aku mencoba mencari-cari masalah apa yang diutarakan.

“Menurut, Bapak kalau ada orang dieloki Jin itu gimana?”

“Mbak, kamu dijalan yang salah!”

“Maksud, Bapak?”

“La wong saya ini bukan ustad juga bukan kyai kok ditanya masalah Jin! Tanya sana, sama Pak Kyai Abdul Hadi!”

“Ah, Bapak ini malah bercanda! Saya ini serius, Pak!”

“Saya tidak cuman satu, Mbak! Saya malah dua! Dua rius! He he he! Wah gimana ya Mbak jawabnya! Itu sulit. Tanya sama yang lain ah, jangan sama saya!”

Sebetulnya saya paham apa yang dibicarakan oleh Mbak Niti ini. Karena dia pernah ke rumahku untuk meminta tolong mengusir makhluk halus yang ada dalam tubuhnya. Katanya dia dieloki makhluk jin. Tetapi waktu itu aku tidak di rumah. Dia hanya bertemu istriku. 

“Saya ini mau minta tolong sama Pak Hilmi, tolong obati saya, Pak!.”

“Mengobati penyakit? Saya bukan dokter, kok!”

“Yah, bercanda lagi!”

Aku diam.

“Gini lo Pak! Kata orang kalau dieloki Jin berarti orang itu jelek ya, Pak!”

“Belum tentu, Mbak!”

“Kata banyak orang, sebaik-baiknya Jin, itu lebih baik dari Manusia yang paling jahat, Pak! Kalau gitu aku kan orang jahat, Pak!”

“Mbak, Jin itu juga makhluk. Allah menciptakan Jin sebelum manusia diciptakan. Allah menciptakan jin dan manusia untuk menyembah kepada-Nya. Tentunya ada yang baik dan ada yang jahat seperti manusia di bumi ini.”

“Tetapi mengapa ada jin yang ikut manusia?”

Jin itu barang yang ghoib karena jin tidak bisa kita lihat. Kita tidak tahu di mana keberadaan mereka. Hanya orang-orang tertentulah atas kuasa Allah mampu melihat dan berbicara kepada makhluk tersebut. Kaitannya dengan Jin yang ngeloki manusia banyak cerita-cerita tentang itu. Dan..itu ya ada!”

Mbak Niti diam. Karena merenung entah karena apa. Atau penjelasanku yang muter-muter tidak sesuai yang diinginkan.

“Pak, tolong saya diobati, Pak!”

“Maksud Mbak, ini apa?”

Aku masih pura-pura tidak tahu.

“Saya, mau terus terang, Pak!”

“Ya, silahkan!”

“Saya ini dieloki makhluk halus, Pak!  Saya ingin makhluk itu pergi dari tubuhku. Saya capek. Seluruh tubuhku berat. Pegal semua. Saya sering sakit, Pak! Saya ingin jadi manusia normal. Saya tidak ingin bisa pijat! Saya tidak ingin didatangi orang-orang. Saya tidak ingin jadi dukun.”

“Mbak, banyak orang yang tidur di punden, meleki pohon besar, puasa berbulan-bulan hanya karena ingin menjadi dukun rewang…!”

“Saya tidak ingin konsentrasi wiridan saya terganggu!”

Aku dengar Mbak Niti ini ikut ngaji thoriqoh. Wajar saja kalau wiridan itu terganggu kalau ada jin bersarang dalam tubuhnya.

“Saya ini, wanita Pak! Pekerjaan rumah wanita itu banyak. Kalau tiap hari ada orang ke rumah minta pijit, kapan aku masak, cuci baju, nyeterika dll.”

“Mbak Niti kok tahu kalau dalam tubuh Mbak Niti dieloki makluk halus?” tanyaku.

“Makhluk itu sering datang di mimpiku, Pak! Kadang saat aku sakit dia datang menemuiku. Terus, saat ada orang datang ke rumah, mau minta tolong, dia pasti datang. Makhluk itu masuk ke tubuhku. Aku seperti orang kesurupan. Aku tidak sadar. Tanganku bergerak mencari anggota tubuh yang menjadi kunci kesembuhan penyakit pasienku. Setelah selesai. Saya baru sadar. Ternyata apa yang aku lakukan, membuat orang yang datang ke rumah tadi sembuh penyakitnya.”

“MBak Niti tahu bentuk makhluk itu?”

“Dia seekor ular besar. Berjenis perempuan. Kadang dia datang dengan bentuk manusia, seorang perempuan cantik!”

“Darimana asalnya?”

“Katanya dari Gunung Pati Ayam.”

Aku manggut-manggut. Gunung yang terletak antara Pati dan kudus itu memang banyak mengisahkan legenda tentang mistis dan makhluk halus.

“:Aku coba kosentrasi. Kutatap wajah Mbak Niti. Aku baca Asma Penerawangan. Aneh aku tidak melihat apa-apa dalam tubuh Mbak Niti. Mana makhluk itu?” batinku.

“Tadi saat saya memanggil Bapak, Makhluk itu pamit kepadaku. Dia bilang, akan pergi sebentar karena ada urusan,” katanya ketika aku menatap matanya.

“Makhluk itu, sering Mbak Panggil?”

“Ya, Pak! Saya panggil kalau ada orang yang minta tolong!”

“Lo…, katanya Mbak Niti tidak mau ada makhluk halus ditubuh Mbak Niti, kok selalu dipanggil?”

“Saya sudah berontak, Pak! Makhluk itu tetap saja tidak mau pergi dari dalam tubuhku. Untuk itu saya mau minta tolong Bapak untuk membuang makhluk itu dari tubuhku.”

“Dah, gini saja Mbak kita bicaranya jangan di sini. Gimana kalau di rumah Mbak Niti?”

“Kalau Bapak berkenan malah saya senang dan berterima kasih, Bapak mau ke rumah saya.” 

“Mari, Mbak!”

Tidak membutuhkan waktu lama kami sudah sampai di rumah Mbak Niti.

“Monggo Pak, silahkan masuk!”

“Geh, Mbak! Assalamualaikum….!”

“Waalaikum salam!” jawab Mbak Niti!”

“Silahkan duduk, Pak!”

“Ya, Mbak!”

Kemudian Mbak Niti Masuk ke belakang. Selang beberapa, lama dia membawa secangkir kopi hitam dan satu toples keripik jamur.

“Monggo, Pak!”

“Ya, Mbak!”

“Kalau niki jamur krispi, Pak!” kata Mbak niti sambil menunjuk toples yang bertuliskan HIRNEOLA, Top Crispy Jamur.

Aku penasaran rasa kripik jamur itu kayak apa? Aku raih toples. Kubuka dan kuambil beberapa buah.

“Ini tadi apa, Mbak? Tanyaku memastikan.

“Jamur Krispi, Pak!”

“Rasanya enak banget, Mbak! Belum pernah aku makan makanan seperti ini. Ini buatan sendiri ya, Mbak?”

“Nggak, Pak! Beli di Toko Mbak Rini!”

“O…Mbak Rini, istri Pak Muhtarom itu?”

“Nggeh…! Monggo diminum kopinya, Pak!”

“Mbak Niti ini, ngrepotin aja! Bikinin kopi segala.” Kataku sambil melirik kopi yang mengepul di depanku.

“Ndak repot kok, Pak! Kebetulan ada!”

Dari aroma yang menendang indra pembauku, kelihatannya kopi di depanku ini nikmat. Aku turuti rasa penasaranku. Kuraih. Kucoba nikmati. Wah….luar biasa nikmatnya.

“Ini, kopi apa, Mbak! Kok, wenak tenan!”

“Itu kopi tulen, Cap 11!”

“Kopi apa itu?”

“Kopi tulen itu kopi mulus, Pak! Cap11 itu namanya.”

“Darimana dapat kopi senikmat ini?” tanyaku penasaran.

“Dari Toko Mbak Rini juga!”

“O…gitu, ya! Sumpah kopinya nikmat, Banget!”

Kalau samapai rumah, istriku nanti aku suruh pergi ke Toko Mbak Rini. Untuk membeli Kopi dan Jamur krispy. Kalau perlu saya suruh borong sekalian untuk persediaan.

“Gimana, Pak?”

“Akan saya suruh borong, Mbak!”

“Maksudnya, Pak?”

“Eh, kopi dan jamur krispi ini enak sekali, Mbak!”

“Bukan masalah itu, Pak! Saya nanya masalah saya, kelanjutannya gimana?”

“O….itu, masalah tadi!”

“Ya, Pak!”

“Rumah, kok sepi Mbak?”

“Ya, Pak. Bapak dan ibuk sedang pergi.”

“Kalau adik sampeyan?”

“Tidur, Pak! Sehabis jamaah subuh tadi tidur lagi.”

“Tolong, dibangunin adik Sampeyan, Ya!”

“Untuk, apa, Pak!”

“Sebagia perisai, Mbak!”

“Maksud, Bapak?”

“Maaf ya, Mbak! Kita ini beda jenis, Mbak! Kita ini juga  sama-sama dewasa. Lagian….” Aku menghentikan pembicaraan.

“Geh, Pak…saya paham. Untuk itu ada orang lain yang menemani kita karena saya janda,  agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan, begitu Pak!”

“Bukan masalah janda atau tidak janda, Mbak!”

“Tenang saja, Pak! Tidak akan ada apa-apa saya ini wong elek. Saya juga wong edan, Pak!”

“Ah…jangan bicara sampai kemana-mana. Saya mau melanjutkan kalau ada orang lagi selain kita. Saya ini bukan alim dan bukan sok alim. Kita Pegadean, aja Mbak! Menyelesaikan masalah tanpa ada masalah. Jadi masalah Mbak Niti selesai tanpa ada masalah kepanjangan.”

“Oh..geh, geh, Pak! Saya ikut arahan Pak Hilmi saja.”

“Bangunkan saja adik, Sampeyan Mbak!”

Bak Niti melangkah masuk. Dia mulai membangunkan adiknya.  Kedengarannya, adiknya tidak mau bangun. Mungkin masih ngantuk berat. Maklumlah ini hari Jumat adiknya tidak bekerja.

 “Maaf, Pak! Adik saya tidak mau bangun. Tanpa orang ketiga ndak pa-pa kok, Pak! Saya percaya sama Bapak, Kok! Saya ini wong edan, kok,  Pak!  Makanya Saya beberapa kali menjadi janda.”

“Ya dah, Mbak gak pa-pa. Rumah sampeyan kan dekat jalan. Pintu juga terbuka. Lagian di rumah kan ada adik sampeyan.”

“Gimana cara sampeyan memanggil, Makhluk itu?”

“Saya disuruh membaca Ilahi anta maksudi wa ridhoka madlubi.”

“Ya, silahkan, Mbak!”

Kemudian Mbak Niti mengulang kalimat tersebut. Seketika tubuhnya ambruk di lantai. Beberapa detik kemudian bangkit. Duduk seperti semula. Matanya tajam menatapku. Kemudian membungkuk dan tersenyum. Kuamati. Senyumnya semakin menjadi-jadi. Pandangan matanya manja kepadaku.

“Jangan berdiri dulu!” Kataku saat dia akan bangkit dari duduknya. “Kamu duduk aja, ya!”

Makhluk yang menyurupi Mbak Niti mengangguk-angguk manja. Dia duduk lagi menuruti kata-kataku. Inilah yang aku khawatirkan betul-betul terjadi. Makanya, mengapa aku menyuruh Mbak Niti mengajak teman lagi hadir di sini.

“Kamu siapa?” tanyaku.

“Ha ha ha ha ha…..!”

Makhluk yang ditubuh Mbak Niti ketawa. Lalu diam. Matanya tajam menatapku. Kemudian Dia bangkit dari duduknya. Mendekati aku. Mukanya didekatkan kemukaku. Jarak mukanya dengan mukaku kira-kira satu kilan tanganku.

“Kamu mau kenalan dengan ku?”

“Ya! Namamu siapa?”

“Namaku Suminten!”

Pandangannya masih tajam ke arahku.

“O, Suminten….!”

Namanya suminten. Aku teringat cerita tentang Suminten dan Raden Mas Subroto. Cerita dari Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo tempo dulu. Suminten menjadi gila karena gagal kawin dengan Raden Mas Subroto, Putra Adipati Trenggalek yang memilih Cempluk Warsiyah, anak Warog Suromenggolo sebagai istri.

“Den Mas Broto…..! Ha ha ha….!” teriak Suminten.

 “Ada apa Mbak, kok disuruh bangun? Aku masih ngantuk, nih!”

Tiba-tiba Majid, Adik Mbak Niti masuk ruang tamu. Suaranya mampu mengalihkan perhatian Suminten yang siap memelukku. Tubuh Mbak Niti berbalik arah ketika melihat Majid. Pandangan dan konsentrasinya beralih ke Majid. Makhluk di tubuh Mbak Niti berjalan bergerak mendekati Majid. Suminten mulai memandangi Majid. Seolah ada sesuatu yang dicarinya. Lama dia berpikir. Dirasa tidak ketemu. Dia mengngunakan alat penciumannya untuk menelisik Majid. Suminten mulai membau tubuh Majid dari atas sampai bawah.

Kemudian pandangannya beralih kepadaku. Matanya tajam menatapku.

“Raden, mengapa engkau tega meninggalkan aku? Apa salahku dan apa dosaku? Ha ha ha ha!”

Kesedihan suminten beralih kegembiraan dalam sekejab.

“Raden mari pulang! Pesta perkawinan sudah digelar. Kita kawin. Jadi suami istri!”

“Mbak, sadar! Ini, Pak Hilmi!” kata Majid.

Aku mencoba memutar otak untuk mengeluarkan Suminten dari tubuh Mbak Niti.

“Suminten…!”

“Ada apa Raden…!”

“Ayo, kita kembali ke Ponorogo. Kita melangsungkan ahad nikah!”

“Apa betul yang diucapkan Raden Mas Subroto?”

“Betul. Diajeng Suminten bersediakah menikah dengan Kakang?”

“Suminten bersedia, Kakang Mas!”

“Kalau begitu Diajeng Suminten jangan mengganggu orang ini lagi!” kataku dengan menunjuk tubuh Mbak Niti.” 

“Saya bersedia, Kakang Mas!”

Sebelum aku raih tangan Mbak Niki, aku bisikan sesuatu kepada Majid, adik Mbak Niti “Mas, kamu siap-siap di belakang Mbak Niti. Nanti kalau Suminten pergi dari tubuh Mbak Niti, tubuh Mbak Niti topang ya, biar tidak jatuh.   

“Enggeh, Pak!” jawab Majid.

“Pegang tangan Kakang ya Diajeng Suminten, kita pulang ke Ponorogo!”

“Baik, Kakang Mas!”

Suminten meraih tanganku. Perlahan tubuh Mbak Niti melemas.

“Ini gimana, Pak?” tanya Majid ketika masih menopang tubuh Mbak Niti.

“Turunkan saja Mas, letakkan di tempat duduk.”

“Ya, Pak!”

Kemudian Majid sedikit menyeret Mbak Niti yang belum sadarkan diri dan didudukan di kursi.

(Bersambung..)

Sumber Gambar:https://bit.ly/34Xc7mS

BIOGRAFI PENULIS

Pak Guru TopS merupakan nama pena penulis. Pria kelahiran Pati, 11 Februari 1975 ini memiliki nama Sutopo Saryani. Setelah lulus MA Raudlatul Ulum Guyangan Trangkil Pati melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Agama Islam Pati, namun tidak sampai lulus. Kemudian beliau kuliah di IKIP PGRI Semarang (Sekarang UPGRI) mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Related posts

One Thought to “Meli Perempuan Ular dari Gunung Pati Ayam”

  1. Top bangets.. Seneng dengan karya2nya pak guru b.indo paporit di ypru…
    Sukses slalu pak guru tops dn ikamarujogja.com

Leave a Comment