Lonceng Tua dan Pemiliknya

Dering telepon berbunyi di dalam saku. Hisba segera mengangkatnya. Terdengar kabar yang menyedihkan, kakeknya meninggal dunia. Satu meja tongkrongan kaget mendengarnya. Dia kemudian pamit kepada teman-temannya untuk pulang ke rumah. Namun salah satu teman menahannya.

“Jangan pulang sendirian, His. Biarkan aku mengantarmu.”

“Tidak usah, kalian disini saja. Kan lebih baik berkumpul dari pada meninggalkan tongkrongan.”
“Aku sebagai temanmu harus terus bersamamu baik dalam keadaan suka maupun duka. Karena kumpul-kumpul seperti ini memang jarang terjadi, namun menemani itu yang terpenting.”

Kemudian mereka berdua menuju motor yang ada di parkiran. Teman-temannya yang lain kembali ke kosannya masing-masing. Hisba dan Bari kembali ke kosan mereka untuk membawa perbekalan, pakaian, dan lain sebagainya. Mereka segera pulang menuju rumah duka. Jarak dari kos-kosan menuju rumah mencapai dua jam. Mereka saling menutup perkataan. Bahwa yang paling tepat diucapkan saat ini adalah menikmati segala hal yang ada sekarang tanpa berusaha mengakhirinya.

Tiba-tiba di tengah perjalanan motor yang dikendarai mereka hilang kendali. “Duuuaaarrrrrrr…!!!”. Ban motor meletus. Padahal jarak menuju rumah tinggal sedikit lagi. Mereka menepikan motornya. Diam sejenak. Menengok kiri kanan mencari tukang tambal ban. Tetapi di jauh mata memandang tak dapat menemukanya. Akhirnya mereka menuntun motornya. Bari menuntun motor sedangkan Hisba mendorongnya dari belakang. Dia memikirkan kakeknya, teringat kenangan lama yang sulit dilupakan.

Jam di tangan memberikan tanda bahwa kakeknya sebentar lagi akan dimakamkan. Karena di daerah tempat tinggal disana memiliki kebiasaan untuk segera menguburkan orang yang sudah meninggal. Hisba panik. Bari melihat ekspresi wajah temannya menunjukkan raut kejengkelan, kesedihan, dan ketidakberdayaan oleh keadaan. Bari memutar otak bagaimana agar bisa sampai ke rumah duka dengan cepat. Akhirnya mereka berhenti di pinggir jalan. Hisba masih terlihat kacau. Bari menggerakkan tangannya ke tengah jalan. Menampakkan ibu jari ke atas. Berharap ada seseorang yang akan membantu mereka. Sebuah mobil pick up berhenti tepat di depan mereka. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil itu lalu menghampiri mereka.

“Kalian kenapa, Dek?”
“Ban motor kami meletus, Pak.”
“Kalian mau kemana?”

“Kami mau ke rumah teman saya pak. Kakeknya meninggal.”
“Ya sudah kalau bergitu saya antarkan ke sana.”
“Terima kasih, Pak.”
Mobil melaju dengan cepat. Didalamnya tak terdengar satu kata pun dari mulut penumpangnya. Mereka bertiga berdiam. Hanya suara mobil tua yang menggema getar. Motornya Hisba berada di bak belakang mobil. Suasana di jalan raya sedikit penuh. Pikiran Hisba juga dipenuhi banyak khayalan.
“Gubraaakkkk…!!”. Mobil yang ditumpangi Hisba dan Bari menabrak seseorang. Mereka bertiga keluar dari mobil. Terlihat di atas aspal jalan terbaring seorang anak kecil. Dia terpental dari sepedanya. Ringsek. Anak itu mengaduh kesakitan. Dia memegang kaki kirinya. Keluar darah merah kehitaman. Orang-orang segera menuju tempat kejadian perkara. Mereka berkerumun untuk ikut menolong anak itu. Bapak sopir itu segera berlutut di dekat anak itu. Menyimpuhkan badan anak itu ke pahanya. Hisba dan Bari shock melihatnya. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak mengamuk. Lalu membuat orang yang mendengarnya ikut merasakan hal yang sama.

“Bapak itu bagaimana, bisa nyupir gak?”
“Maaf pak, saya tidak sengaja.”
“Tidak bisa pak, anda harus bertanggungjawab kepada anak itu.”
“Iyaa benar. Anda harus bertanggung jawab.”
“Betul..!!”
“Iya pak, saya akan tanggung jawab.”
Kemudian bapak sopir itu menghampiri Hisba dan Bari. “Maaf ya, Dek. Bapak tidak bisa mengantarkan kalian sampai rumah”. Hisba dan Bari merasakan hal yang kacau. Pikiran berkecamuk. Mereka harus segera pulang ke rumah. Tetapi bapak sopir itu juga butuh bantuan.
Motor mereka diturunkan dari bak belakang. Mereka kembali meneruskan perjalanan dengan langkah gontai. Mencari tukang tambal ban. Mereka bertanya kepada salah seorang pedagang kecil di pinggir jalan. “Maaf pak, ada tukang tambal ban di dekat sini?”. Pedagang itu memberitahu bahwa sekitar dua ratus meter lagi ada tukang tambal ban. Kemudian mereka menuju kesana. Sesaat telah sampai disana, Hisba kaget. Ternyata tukang tambal itu tetangganya. Kemudian mereka bercakap-cakap. Tukang tambal itu adalah kawan lama kakeknya Hisba. Disaat menunggu sepeda motor yang ditambal, dia bercerita tentang kakeknya Hisba. Dulu kakeknya sering membantu orang lain. Pernah suatu ketika ada orang yang kesusahan di desa. Kakek itu segera menuju ke rumah orang itu lalu berbicara dengannya. Dia menanyakan apa yang sedang dialami oleh tetangganya itu. Ternyata tidak mempunyai uang untuk membeli bahan makanan. Lalu kakek itu memberikan beberapa lembar uang untuk mereka. Dengan wajah yang sangat senang mereka mengucapkan terima kasih. Dan memberikan senyuman kepada kakek itu. Bahwa rejeki itu bisa datang dari kemauan seseorang.
Percakapan mereka berhenti karena motor selesai ditambal. Hanya dengan peristiwa kecil cerita besar bisa terdengar. Menjelaskan bagaimana kehidupan kakeknya dulu. Dan masih tetap sama sampai akhir hayatnya. Mata Hisba berkaca-kaca. Mereka berdua pamit kepada tukang tambal ban itu. Lalu meneruskan perjalanan ke rumah.

Setelah sampai di rumah, Hisba segera menuju jenazah. Dia melihatnya dengan tajam. Kantung dibawah matanya mulai mengembang, menyimpan air mata kehilangan. Bari masih terdiam didepan rumah duka. Melihat orang yang melayat dengan penuh perhatian. Memperhatikan raut wajah mereka semakin dalam. Seakan berarti kesedihan dan rasa ketidakrelaan ditinggal oleh salah satu tetangganya yang baik dan bijaksana.
Pemakaman akan segera dilaksanakan. Anak- anak lelaki kakek itu dan beberapa tetangga mengangkat jenazah dan membawanya menuju makam desa. Hisba mengikutinya dari belakang. Orang-orang mulai melantunkan doa-doa kepada kakek itu. Dengan suara yang tegas dan sayu, suara itu menyentuh hati. Membuat bulu di permukaan kulit berdiri. Bahwa apa yang sedang terjadi telah digariskan oleh Tuhan. Kepada apa yang dipunyai tidak akan dibawa, tentang siapa yang dimiliki tak bisa apa-apa.
Bau bunga kamboja mulai tercium. Harum. Jarak kaki orang-orang akan sampai di makam. Para penggali kubur telah menunggu di liang. Keadaan di makam becek karena malam harinya sebelumnya hujan. Tersadar bahwa alam ikut menangis karena ditinggalkan oleh orang baik.
Keranda kakeknya telah tiba di dekat liang. Jenazahnya diturunkan ke dalam. Penggali kubur menimbunnya dengan tanah yang bercampur air hujan sisa semalam. Anggota keluarga merapat ke atas pusara dengan wajah menunduk. Memberikan bunga-bunga wangi di atasnya. Hisba ikut menabur bunga. Lalu doa dipanjatkan kepada kakek itu. Satu demi satu orang meninggalkan makam. Mereka pulang membawa nasihat bahwa sesungguhnya nasehat yang paling baik adalah kematian. Hisba masih termenung. Dia memegang tanah milik kakeknya itu. Lalu menggenggam seolah-olah itu tangan kakeknya. Orang tuanya hanya bisa melihatnya dengan diam. Suasana menjadi tenang tanpa suara. Hanya daun yang jatuh dari sebuah pohon jati yang memperdengarkan bunyi hampa.
Sampai di rumah Hisba langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia mencari barang pemberian kakeknya dulu. Sebuah lonceng tua. Dia memperhatikannya dengan penuh. Lalu mengambilnya dari sebuah kotak. Di kedua tangannya itu dia merasakan ada kehangatan ketika menyentuhnya. Kemudian dia membunyikannya dengan nyaring agar keluarganya tahu bahwa kakeknya masih bersama keluarganya.****

Related posts

Leave a Comment