Ketika Kota Romantisku Berduka

Sumber Gambar : http://bit.ly/2NEYZzJ

Kota romantisku berduka. Matahari sudah lama bersembunyi dibalik awan-awan pekat yang mewarnai langit kelabu. Aku sudah hampir dua jam duduk sendiri di atas sebuah motor yang kemungkinan milik salah satu pegawai pom bensin di sini. Sayangnya, ponselku sumber konektivitasku sedang dalam keadaan kritis hampir mati terbunuh oleh sumber daya nya sendiri. Jadilah diriku nelangsa lebih.
Air yang menerjang bumi memang sudah tidak seganas tadi. Tapi tetap saja, memikirkan kado dari ayahku-sebuah komputer portabel-membuatku gamang menyeberang. Langkahku jadi menggantung di bibir tangga terakhir sebelum mencapai aspal. Beberapa menit kupikirkan sejenak disana. Jika ku tetap disini, sendiri, tidak ada tanda-tanda lampu merah dari lalu lintas langit yang akan menghentikan hujan dari arah langit. Jika ku meneruskan langkahku, dengan konsekuensi akibat lupa membawa jas hujan, (badan+baju+tas)ku akan basah.
Aku menghela nafas.
Kuputuskan untuk kembali mundur. Aku bersandar pada tembok putih yang benar-benar meniadakan panas pada materialnya. Sendirian. Samar-samar aku mendengar panggilan suci dari Sang Khaliq untuk bersembahyang. Untuk mengingatkan kepada makhluknya yang istimewa, bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa yang pantas di taati secara mutlak. Menghimbau manusia untuk menjauhi rasa keputusasaan yang sering dikeluhkannya.
Aku menghela nafas lagi.
Setidaknya aku disini tidak benar-benar sendiri. Arah jam dua, ada sepasang muda-mudi berseragam. Duh, benar-benar ya. Kenapa mereka harus berdua dan tertawa bersama dibalik rinai hujan? Kurasa aku juga tidak sampai seperti itu waktu dulu.
Aku menoleh lagi, arah jam sembilan. Ada seorang bapak-bapak berbadan tegap, beliau sedari tadi tidak duduk dan tidak berhenti berjalan. Maju, mundur, ke kanan, ke kiri. Sepertinya beliau di sini mengamati situasi merasionalkan keadaan. Tangan kanannya memegang ponsel dan tangan kirinnya memegang helm. Tanpa sengaja aku melihat potret gadis cantik yang sedang tersenyum dalam wallpaper ponselnya. Ah, aku jadi merindukan ayah.
Masih ada beberapa manusia lain sebenarnya. Ah itu, jaket merah bertinta hitam. Itu jaket salah satu UKM terkenal di kampusku. Seseorang lelaki yang memakainya. Mungkin aku bisa mengobrol dengannya. Aku kenal beberapa anggota UKM tersebut. Setidaknya hal ini dapat menyairkan ketiadaan panas dalam balok air yang membekukan suasana petang ini.
Aku menghela nafas lagi.
Sungguh di sini waktuku terbuang karena menunggu air lewat. Seharusnya selama dua jam aku sudah bisa mencicil mengerjakan laprak. Seharusnya selama dua jam aku sudah bisa bermain dengan computer portabelku dan menghasilkan kumpulan huruf yang berirama. Seharusnya selama dua jam aku bisa tidur sejenak melepas penat. Seharusnya selama dua jam aku sudah bisa mandi, mencuci, dan makan. Sungguh, rahmat Tuhan kali ini membuatku merasa melarat.
Aku melirik tas punggung coklat milikku dipelukanku. Di dalamnya ada komputer portable. Haruskah aku menggunakannya disini? Dikeramaian ini? Ah ribet memang. Bagaimana jika nanti ada tangan jahil? Bagaimana jika nanti tiba-tiba ada yang lewat dengan kecepatan tinggi melintasi genangan air? Bagaimana jika ada yang menepuk bahuku membuatku terhipnotis?Ah bagaimana jika..
Aku menghela nafas.
Kepalaku menoleh ke kanan dan kekiri secara abstrak. Kuperhatikan mas-mas penjaga pom yang berlalu lalang mengacungkan pistol dan tersenyum. ‘Dimulai angka nol ya’. Dengan lengkungan bibir pada pengucapan ‘di’, dan wajah lelah pada pengucapan ‘ang’. Ritme mereka, gesekan uang kertas, luncuran minyak, semua beradu dengan bau minyak yang menyekat.
Hei, sepertinya hujan mulai mengurangi intensitasnya. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, namun belum ada cercah sinar dari langit. Semua masih awan pekat. Tapi air langit sudah tidak menetes. Aku pun bangkit dari motor, dan membuka telapak kananku. Nihil, tak ada air lagi.
Alhamdulillah, senangnya
“Mbak maaf, permisi sebentar mau ambil uang di jok” Seorang laki-laki, berseragam, dan sedang berbicara padaku.
“Ah iya, maaf. Terimakasih ya mas motornya udah jadi tempat saya duduk selama hujan. Duluan ya, mas.” Balasku beramah-tamah.
“Ah iya mbak, terimakasih juga ya”
Aku memutar badan. “Apa mas? Buat apa?”
“Terimakasih sudah mau tersenyum. Akhirnya, langit ini dan hati ini sama terangnya.”
Lelaki itu berjalan tanpa menoleh. Badanku kaku. Awan pekat pun ikut meleleh bersamaan. Terimakasih pada matahari yang mengaburkan rona dengan sinar hangatnya.

Yogyakarta, 3 Maret 2019

Biografi Penulis

Seorang mahasiswi semester awal yang kecanduan pada radio. Saat ini sedang menempuh studi di Universitas keguruan no.1 karena bercita-cita menjadi guru fisika yang muridnya tidak ada yang membaca novel saat pelajaran berlangsung. Sekarang namanya Rara, jika ingin bersapa silahkan hubungi Salsabilafutura51@gmail.com

Related posts

Leave a Comment