Jomblo Revolusioner

Terdengar asing bukan ungkapan tersebut ? Iya, bisa jadi. Namun, beda halnya dengan para makhluk hidup yang mengatasnamakan sosial sebagai alasan menghindarkan diri dari segala bentuk celotehan receh makhluk lain di sekitarnya. Jomblo bisa saja di definisikan sebagai seorang individu yang memilih jalan hidupnya sendiri dalam menjalani setiap hiruk piruknya aktivitas kehidupan. Entah karena apa alasan yang jelas, saya tidak berani mengungkapkannya disini hehe.

Berbicara tentang revolusioner, siapapun orang akan sejenak berfikir sebelum akhirnya menemukan makna yang tepat dalam pendefinisiannya. Jika ditinjau dari segi bahasa formalitas KBBI, revolusioner memiliki hakikat makna cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Nah, sudah jelas bukan dari sini, apa yang dimaksud dengan jomblo revolusioner sebagaimana judul tulisan ini? Jika belum, bisa ditanyakan saja kepada kawan anda yang sudah paham haha.

Ditinjau dari berbagai survei, 75% manusia pemilik status jomblo di dunia ini memiliki kredibilitas tinggi dalam berkarya. Hal ini dapat dilihat dari banyak para aktivis kampus misalnya, yang memilih menyendiri (bukan berarti nggak laku) dalam setiap kesehariannya menikmati masa-masa indah perkuliahan, organisasi, dan tentunya pekerjaan. Mereka merasa lebih bebas berkarya, memiliki udara yang lebih segar dalam bernafas. Meskipun salah satu ungkapan cerdas menyatakan bahwa “Dibalik laki-laki sukses ada wanita hebat di belakang yang mendukungnya”. Hem, ya ungkapan itu bisa saja digunakan, tapi bagi saya, lebih tepat lagi jika konteksnya dirubah, misal untuk hubungan yang lebih serius lagi seperti suami istri, mungkin.    

Kontrsibusi pemuda sangat dinantikan aksinya oleh negara. Sehingga jelas sudah bahwa semua karya-karya anak bangsa adalah wujud kepedulian kita kepada negara. Inilah salah satu alasan yang melatarbelakangi mengapa kaum aktivis pada umumnya lebih memilih menyendiri bertapa demi menghasilkan karya yang lebih gemilang. Sudah kita ketahui bersama, bahwa perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia dapat dilihat dari bagaimana kaum mudanya bergerak. Mengapa demikian? Seperti halnya ungkapan presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia Ir. Soekarno, yang menyatakan bahwa di tangan pemudalah bangsa ini akan berkembang dan maju, anda bisa melihat apakah negara ini maju atau tidak dengan melihat pemudanya. Sebab, bukan tentang apa yang Indonesia berikan pada kita, melainkan tentang apa yang bisa kita berikan untuk Indonesia.

Biografi Penulis

Dea Riski Khiarotunnisa, Lahir di Jepara, 13 Desember 1999. Akrab dengan sapaan Dea. Mahasiswi yang kini menempuh pendidikan semester 4 program studi pendidikan guru madrasah ibtidaiyah di STAI Sunan Pandanran Yogyakarta ini, kini mulai menekuni hobinya yang sempat terhenti, apa itu? Menulis. Rupanya tidak hanya menulis, perempuan penyuka warna navy (biru dongker) ini tertarik pula dengan segala macam seni (tulis, tari dan teater). Sedikit cerita tentang penulis, yang kini tengah berjuang keras untuk mencintai membaca. Salah satu ungkapan yang kini memotivasinya untuk membaca lebih banyak buku dan menulis ialah “Membaca untuk mengetahui apa saja yang ada di masa lalu, dan menulis untuk memberi tahu mereka yang ada di masa depan”. Penulis tertarik untuk berdiskusi mengenai hal apapun, ditunggu di (fb: Dea R, ig: dea_khia,  twitter: DeaKhia,  wa: 08985621003). Salam sapa, salam hangat, semangat berproses untuk kita semua.

 

Related posts

Leave a Comment