Hari Santri Nasional 2019 “Santri, Ayo Kuasai Dunia!”

Ketika malam sudah tidak dapat diakatakan malam. Sebuah sistem bawah sadar, yang biasa disebut body alarm berdering tanpa ada tombol tunda 5 menit lagi. Setengah sadar, berhadapan dengan puluhan dengkuran nafas teratur yang menjadi musik ninabobo untuk kembali merayap dengan dinginnya lantai yang hanya berlapis karpet. Adzan subuh pun mengembalikan jiwa yang hilang lagi dari jasadnya. Hamparan putih-putih dengan bersenandung kitab suci mengalamatkan bahwa tempat ini berbeda dengan tempat pertama kali membuka mata pagi ini. Entah bagaimana caranya berpindah.


Ayo, kamusnya dibuka. Nahwu Sorofnya dibuka. Ora kok amen gondal-gandul ae.” Cengengesan.


Tak lama derap langkah terdengar mantap. Alunan yang keluar dari pengeras suara seakan menjadi konduktor dari paduan suara langkahan sepatu. Entah bahan apa yang melekat di sepatu itu, masih menjadi misteri yang tidak dipecahkan hingga kini. Yang jelas langkahan tersebut menjadi pertanda untuk segera merapikan lembaran-lembaran buku yang berserakan.


Wallaahu a’lamu bisshowaab(be’).” kor suara kompak mendendangkan kalimat sakti yang mampu mencerahkan wajah tanpa skincare, menguatkan stamina tubuh tanpa suplemen, dan menggairahkan jiwa-jiwa yang tandus. Tanpa menunggu lama, majlis tersebut tak bersisa setelah salam terdengar.


Lingkungan pun berganti. Dengungan suara yang bukan berasal dari lebah menguasai ruang dengar. Kadang bisikan, namun lebih banyak lengkingan. Beraneka ragam kegiatan yang dilakukan, entah individu ataupun kelompok. Bermain dengan rambut, sarapan dengan haha-hihi, memperkaya khasanah pikir dengan membaca fiksi, menjaga kebersihan lingkungan dengan mencuci dan merapikan, atau hanya sekadar meraih mimpi. Ah iya, tak lupa mandi matahari dan Happy Wednesday jadi kombinasi pagi yang menarik untuk menjalani hari.


Ah, rindu bukan? Itu baru 6 jam dari 24 jam yang kita lewati bersama. Belum uraian tentang life-hack ala Guyangan, bercerita tentang kantin dan segala kesesakannya, bercerita tentang kamar mandi dan segala antrian kamarnya, bercerita tentang aula dan segala udara panasnya, bercerita tentang ndalem dan lantai dinginnya, bercerita tentang tokoh-tokoh pondok yang tak habis pembahasannya. Itu baru kisah di dalam gerbang. Ribuan cerita akan mengalir lagi jika kita keluar gerbang yang dijaga ketat oleh seorang yang kita pandang kumisnya saja kita sudah menciut, hehe.


Kyai Musthofa Bisri menjelaskan, ”santri adalah murid Kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat (yang tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan); yang mencintai tanah airnya (tempat dia dilahirkan, menghirup udaranya, dan bersujud di atasnya) dan menghargai tradisi-budaya-nya; yang menghormati guru dan orangtua hingga tiada; yang menyayangi sesama hamba Allah; yang mencintai ilmu dan tidak pernah berhenti belajar (minal mahdi ilãl lahdi); yang menganggap agama sebagai anugerah dan sebagai wasilah mendapat ridha Tuhannya. santri ialah hamba yang bersyukur

Beliau yang akrab disapa Gus Mus ini menambahkan, “Siapapun yang berakhlak seperti santri adalah santri.”


Pada hari ini radikalisme agama telah meluas. Negara kita darurat radikalisme. Apalagi dengan teknologi yang kian berkembang pesat, memudahkan jaringan bawah tanah mereka untuk meluaskan gerakannya lagi. Targetnya yakni pemuda-pemudi milenial. Maka seluruh sistem, nama, dan model kajian harus terbungkus rapih yang mampu menarik minat generasi milenial.


Inilah yang menjadi ancaman bagi kita semua. Santri dituding kurang up to date dengan perkembangan zaman. Padahal teknologi lah yang kini menjadi kunci untuk kita bisa menguasai dunia. Padahal dulu kita punya ibnu sina, ibnu rusyd, dan ulama’ lainnya. Mereka luar biasa, menguasai tidak hanya satu atau dua ilmu. Keren bukan? Dalam kalangan santri saat ini ada pula Nadirsyah Hosen seorang guru besar Monash University, K.H. Ma’ruf Amin Wakil Presiden Negara Indonesia, aku sendiri, dan kamu semuanya. Dengan cara apa? MEMBACA. Sebagai jalan utama kita menuju kesuksesan.


Hari santri adalah tonggak perjuangan bahwa santri bukan cuma berkutat dengan kopyah buluk dan mushaf-mushaf kuning untuk dirinya sendiri. Ada makna nasionalisme sehingga santri turut memiliki andil dalam perjuangan. Baik dengan mengangkat senjata maupun diplomasi. Maka kawanku, para santri. Membacalah. Bacalah apapun yang bisa kau baca. Bacalah apapun yang akan membuatmu tidak menjadi generasi manutan. Bacalah apapun, kuasai dunia ini. Install twitter, lambungkan hashtag #harisantrinasional2019.


Aku santri, kamu santri, semoga nama kita tertulis berdampingan di lauhul mahfudz, ehe.

Tentang Penulis :

Seorang mahasiswi semester awal yang kecanduan pada radio. Saat ini sedang menempuh studi di Universitas keguruan no.1 karena bercita-cita menjadi guru fisika yang muridnya tidak ada yang membaca novel saat pelajaran berlangsung. Sekarang namanya Rara, jika ingin bersapa silahkan hubungi Salsabilafutura51@gmail.com.

Related posts

Leave a Comment