Duri Batu Petani

Sumber Gambar : http://bit.ly/313cdHQ

Wahai petani. Hidup untuk kepentingan negeri ini. Tapi terkadang juga tercekik oleh keadaan yang mereka hadapi. Kekeringan sering menghantui saat kemarau panjang menghampiri, cuaca sedang tak bersahabat. Narasi seperti itu sering didengungkan oleh para petani. Namun bukan hanya masalah itu saja yang sedang mereka hadapi. Bagaimana nasib bangsa ini jika ditinggalkan oleh para petani? Berevolusi industri? Lantas, rakyat Indonesia mau makan apa? Padahal Indonesia sudah terkenal dengan negara agraris, negeri yang pondasi utamanya berasal dari sektor pertanian. Apa saja. Entah itu petani padi, kentang, palawija, bawang, dan sebagainya.

Sangat jarang sekali ada anak-anak yang bercita-cita menjadi petani. Meskipun ia berasal dari keluarga petani, namun ia tak mau melanjutkan garis keturunan sebagai petani. Kebanyakan bercita-cita menjadi dokter, polisi, guru, dan macam-macam pekerjaan lain yang dipandang mempunyai wibawa tersendiri. Yah memang pekerjaan sebagai petani sering dipandang sebelah mata, seolah menjadi petani itu tidak penting sama sekali. Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang kita makan sehari-hari berasal dari petani. Beras yang menjadi makanan pokok rakyat Indonesia juga merupakan hasil jerih payah petani. Sayur-sayuran di pasar, yang hampir kita konsumsi setiap hari, siapa yang menanamnya? Terkadang kita lupa jasa para petani.

Ada masalah lain yang sedang petani hadapi saat ini. Apa itu? Lahan pertanian yang semakin sulit dan sempit. Banyak beralih fungsi menjadi gedongan yang bertingkat-tingkat juga pabrik industri yang menjamur dengan cepat. Apalah daya petani yang notabene rakyat biasa. Mereka demo pun tak ada yang menghiraukan. Mereka hanya ingin haknya kembali, namun mereka tak punya kekuatan yang berarti. Contohnya? Cobalah tengok tahun 2016 lalu, aksi cor kaki yang dilakukan oleh Petani Kendeng di Rembang Jawa Tengah sebagai bentuk protes juga penentangan terhadap pembangunan pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng. Petani Kendeng beranggapan jika pabrik semen jadi dibangun di wilayah tersebut, maka akan menimbulkan dampak kerusakaan lingkungan yang cukup serius. Bulan ini pun tak kalah menghebohkan dengan adanya berita pemukulan oleh anggota TNI kepada para petani Urutsewu di Kebumen, Jawa Tengah. Masalahnya dipicu oleh sengketa lahan antara petani dengan aparat TNI yang mana diduga ada perampasan tanah (milik petani) secara sistematis. Para petani beramai-ramai menghalau tentara yang sedang membangun pagar beton sepanjang 4,9 kilometer di tanah yang diklaim sepihak oleh TNI. Kekerasan pun tak dapat terhindarkan lagi karena para TNI dibekali pentungan dan juga senjata laras panjang. Banyak dari petani yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Namun ada polemik yang lebih krusial sekarang ini yang sedang dihadapi oleh para pemilik lahan, khususnya para petani. Yaitu RUU Pertanahan, yang berpotensi menghilangkan hak perorangan, petani, masyarkat adat, serta para aktivis agraria, demi memenangkan segelintir kelompok masyarakat tertentu. RUU Pertahanan dinilai terdapat sejumlah pasal karet yang juga multitafsir. Pasal karet tersebut antara lain dimuat dalam bab hak atas tanah, bab penyidik pegawai negeri sipil, dan ketentuan pidana. Korban penggusuran yang melawan terancam pidana paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah), begitulah kira-kira maksud salah satu bunyi pasal dalam RUU Pertanahan.

Bagaimana nasib para petani suatu saat nanti? Bagaimana mereka akan bertahan hidup? Dimana mereka akan menanam padi, jagung, kentang, dsb, jika tanah yang mereka rawat dan jaga setelah sekian lama lantas diambil secara paksa oleh orang-orang yang serakah? Mengapa hukum di negeri ini seperti pisau, tumpul ke atas dan tajam ke bawah? Wakil rakyat yang kita kira dapat menyambungkan lidah rakyat, justru malah membunuh rakyat secara perlahan-lahan. Sudahlah. Tak akan pernah selesai mengkritik para pejabat yang sedang duduk di Senayan. Dan tak lupa pula, selamat hari tani nasional. Semoga perut rakyat Indonesia tetap kenyang karenamu wahai petani.

BIOGRAFI PENULIS

Zahrotul izzah, atau akrab disapa zahiz atau izzah, lahir di Pati 21 Juli 2000. Sekarang melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Program studi Ilmu Hadis. Email zahrotulizzah21@gmail.com/IG zahro_zahiz/twitter @izzah_zahrotul.

Related posts

Leave a Comment