Cinta Rasulullah Sebagai cinta Tanpa Alasan – Maulid Nabi Muhammad SAW

Seperti yang telah kita ketahui, Islam memiliki beberapa bulan-bulan mulia yang dalam bahasa keseharian santri dikenal dengan istilah Asyhurul Hurum.Tepat pada hari ini kita bertepatan dengan bulan yang tidak masuk dalam Asyhurul Hurum, tetapi banyak yang memuliakan dan dianggap bagian dari bulan yang dispecialkan, yakni bulan Rabiul Awal.  Bulan Rabiul Awal memang tidak masuk dalam bagian Asyhurul Hurum , namun karena sejarah dan peristiwa penting yang ada di dalamnya membuat umat-umat islam menganggap bulan ini bagian dari bulan yang special selain Asyhurul Hurum. Moment special itu yakni lahirnya Rasulullah Muhammad SAW sebagai pembawa kedamaian umat Islam serta rahmat bagi seluruh alam semesta atau lebih dikenal dengan istilah Rahmatan Lil’alamin.

Sekilas mungkin ada pertanyaaan yang muncul mengapa kita harus memuliakan atau mengangugkan bulan ini? Telah disinggung dalam pemaparan sebelumnya, bulan rabiul awal merupakan bulan nabi Muhammad SAW dilahirkan, bulan dimana sang kekasih kita menatap hingar binarnya dunia kali pertama, yang tanpa beliau kita tidak akan bisa menikmati kedamaian alam semesta ini. Dalam sebuah hadis haditas Qudsi dikatakan: “sungguh jika bukan karena engkau Muhammad tidak akan aku ciptakan alam semesta ini”. Dari hadis tersebut, kiranya kita bisa mengambil ibroh bahwa kita dan alam semesta ini hendaknya memiliki rasa terimakasih terhadap beliau. Karena beliaulah kita hadir di dunia, menyaksikan agungnya ciptaan Allah, beraktivitas di atas bumi, menikmati kehidupan-kehidupan alam raya ini dan menimba ilmu di dalamnya. Tak ada orang yang memiliki kerinduan dan besarnya kasih sayang kepada kita selain Rasulullah. Orang tua kita, kekasih kita, kawan-kawan kita, orang-orang disekitar kita, Tentu tidak. Mereka menyayangi kita saat kita telah hadir dalam kehidupan dunianya. Dalam hadis riwayat muslim dikatakan” “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan saudara-saudaraku.” Saat it suasana di daam majelis menjadi hening sejenak. Semua yang hadir terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu. Terlebih sayidina Abu Bakar, karena pada saat itulah kali pertama ia mendengar orang yang sangat dikasihinya mengeluarkan pengakuan sedemikian.“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan keganjalaannya yang mulai memenuhi pikiran. “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah. “Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain seolah iri dengan perkataan Rasululah yang mengisyaratkan seakan yang beliau maksud memiliki kedudukan jauh lebih tinggi dibanding dengan dirinya.Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda Rasulullah bersabda: “Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Hadis Muslim).

Tidak berhenti di situ, sebelum ajal menjemputnya, sisa nafas terakhir Rasulullah tidak dipenuhi tentang keluarga, harta benda ataupun istri-istrinya. Lalu apa yang keluar dari bibir beliau ketika berhadapan dengan jibril? “ummatku ummatku ummatku” begitu tutur sang rasul ahiruzzaman. Beliaumenitipkan kita kepada jibril, betapa beliau sangat menyayangi dan mengkhawatirkan umatnya. Kita memang ummat yang terakhir dalam sejarah pengutusan rasul dan anbiya namun kitalah umat yang paling beruntung yang medapat kasih sayang Rasulullah, begitu banyak sejarah menceritakan kehidupan zaman nabi terdahulu. Saat umatnya melakukan maksiat, maka dalam dirinyaakan terukir dosa yang telah diperbuat dan adzab akan tiba setelahnya, namun ketika kita sebagai umat terakhir, umat yang setiap hari tak lepas melakukan maksiat, umat yang setiap waktu melakuan dosa tetapi tidak pernah secara langsung diadzab seketika oleh sang khaliq, itu semua melainkan buah kasih sayang dari beliau. Dengan itu, menjadi sebuah perenungan saat kita jarang menyadari bahwa kita sering merasa  santai santai saja ketika melakukan dosa, masih merasa tenang dan tak pernah mempedulikan bahwa ada manusia sempurna, manusia rupawan hati serta rupanya yang menyayangi kita dengan tulus, menemani kita nanti di yaumul mahsyar. Siapa beliau dan siapa kita hingga begitu besar kasih sayang yang beliau berikan namun jarang dari kita menyadari apalagi sampai membalas kasih sayangnya. Cinta beliau kepada kita denagn tanpa alas an, cinta yang tulus tanpa mengharap suatu apapun dari yang dicintainya.

Berangkat dari beberapa rangkaian kata ini, tak ada salahnya kita ikut andil memuliakan, menghormati serta merayakan bulan kelahiran sosok mulia ini. Maka sekilas muncul pertanyaan apa yang membuat mereka mengatakan bahwa memperingati hari kelahiran Rasulullah merupakan bagian dari bid,ah bahkan ada yang mengatakan sebagai suatu keharaman.

Terlepas mereka yang mengatakan peringatan maulid nabi itu bid’ah, kita sebagai golongan kaum santri hendaknya mencintai beliau dengan tanpa alasan, membalas kasih sayangnya dengan apa yang kita mampu salah satunya adalah mengagungkan bulan ini, memperbanyak bersolawat dan mengimplikasikan sifat mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari kita. Karena siapa lagi kalau bukan Rasulullah sebagai pemberi pertolongan untuk kita di hari akhir nanti. Sedikit tulisan ini semoga menambah rasa cinta dan khidmah kita terhadap beliau dan menyadarkan kita bahwa saat ini kita telah memasuki zaman akhir kehidupan dan setelah itulah pertolongan Rasululah kita butuhkan. Semoga kita menjadi umat yang senantiasa mendapat pertolongan, syafaat dan diakui sebagai umatnya.

Sumber Gambar : Link

TENTANG PENULIS

Najibul Faiz atau akrab disapa Faiz, lahir di Pati, 22 Desember 1999. Tercatat sebagai Mahasiswa Ilmu Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang berdomisili di Ponpes Al fattah Kudus, Jawa Tengah.

Related posts

Leave a Comment