BELIK (1)

  oleh: Hanis Akroh F. Pagi ini aku bertamu ke rumah Mbah Taya, dan bisa dibilang hampir setiap hari aku selalu datang kerumahnya, bagiku rumahnya sudah seperti rumah keduaku. Bagaimana tidak, lha wong  kalau lapar tinggal kedapur saja, bila tidak ada makanan ya bisa langsung masak, lauknya metik sendiri, ngambil hasil kebun dari pekarangan rumahnya. mau kopi tinggal bikin. Tapi aku juga tahu diri, tidak serta merta aku menjadi penjajah jor-joran di sini. Kadang aku juga sering membawa beras, kopi, gula atau semacamnya untuk Si Mbah,  Ya walaupun akhirnya aku…

Read More

PELAKOR

Sumber Gambar : Link Krekk…! Suara pintu kamarku terbuka. Terlihat langkah kecil dengan gontai masuk kamar. Wajahnya pucat. Tubuhnya lesu. Rasa ibaku menyayat-nyayat hati. Seketika gairah hidupku mati. Salah satu matahariku siang ini sinarnya pudar.“What happen? Kenapa kakak wajahnya gitu?” tanyaku.“Aku tadi kan ke rumah papa,” kata Sella sambil menahan air matanya biar tidak jatuh.“La iya, terus kenapa?” tanyaku penasaran.“Papa memilih Sulastri Ma!” sambil menahan air matanya.Peggg…! Dadaku kayak ditampek. Sakit sekali. Ada sesuatu menggumpal rasanya di dada. Jahanam Sulastri bocah sekecil ini harus diberitahu masalah orang tuanya.“Kan, udah dari dulu…

Read More

Ketika Kota Romantisku Berduka

Sumber Gambar : http://bit.ly/2NEYZzJ Kota romantisku berduka. Matahari sudah lama bersembunyi dibalik awan-awan pekat yang mewarnai langit kelabu. Aku sudah hampir dua jam duduk sendiri di atas sebuah motor yang kemungkinan milik salah satu pegawai pom bensin di sini. Sayangnya, ponselku sumber konektivitasku sedang dalam keadaan kritis hampir mati terbunuh oleh sumber daya nya sendiri. Jadilah diriku nelangsa lebih.Air yang menerjang bumi memang sudah tidak seganas tadi. Tapi tetap saja, memikirkan kado dari ayahku-sebuah komputer portabel-membuatku gamang menyeberang. Langkahku jadi menggantung di bibir tangga terakhir sebelum mencapai aspal. Beberapa menit…

Read More

MEMBUNUH RASA

MEMBUNUH RASA Oleh; Pak Guru TopS “Empu geluh!” teriak Kakek Nasir setelah ia mengamati sinar mentari yang mengintip di sela-sela daun jati. “Apa sudah waktunya istirahat Kek?” tanyaku. “Kelihatannya sudah. Lihatlah, sinar matahari yang menerobos daun-daun itu. Sinarnya berada di atas kepala kita!” “Oh ya betul Kek, matahari sudah di atas kepala kita!” Kataku setelah kudongakkan kepala mengikuti perintah Kakek Nasir. Kulihat Samsudin dan Pak Ali masih serius membongkah batu segede meja. “Samsudin…! Pak Ali…! Ayo, kita istirahat dulu!” teriakku kepada Samsudin dan Pak Ali yang belum mau meninggalkan batu…

Read More