Bucin

Sumber Gambar : http://bit.ly/2KFIHmj

#part 1

Assalamu’alaikum temen-temen….

Selamat pagi/siang/sore/malam buat kamu. Iya kamu, kamu yang selalu aku tunggu namun tak ada kesempatan untuk bertemu. Passwordnya apa mas/mbak? Nyaman tog ora nganti jadian. Pokoknya yang harus diingat itu, ora bakal ilang tresnoku nggo kowe. Krik krik krik… Kali ini edisi BUCIN #part1 akan membahas tentang, apa sih bucin itu? Definisi bucin yang tepat itu yang seperti apa? Dan bagaimana kok bisa dijuluki dengan bucin? Langsung aja yuk simak di bawah!

Menurut pendapat orang-orang yang sebenarnya jauh lebih bucin daripada penulis, bucin itu merupakan kependekan dari budak cinta. Dalam KBBI, istilah bucin itu gak ada. Tapi kalau kamu tetap ada dalam hatiku kok. Eak…… Yang ada dalam KBBI itu, budak yang berarti hamba; abdi, sedangkan cinta yang berarti suka sekali; sayang benar; kasih sekali. Menurut penulis, bucin yaitu orang yang menghambakan dirinya untuk cinta dan ia akan melakukan apapun demi cinta. Bisa juga diartikan dengan orang yang tergila-gila akan cinta dan bersedia melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Apapun akan aku lakukan asal kamu bahagia. (misalnya).

Penulis sebenarnya sering dijuluki bucin. Pernah pada suatu masa (masa-masa indah tentang kita), eh bukan ding, penulis bertanya kepada salah satu teman yang menganggap penulis bucin, “kok aku dibilang bucin, sih?” Jawabannya hanya, “karena kamu budak cinta,” atau “karena kamu bersikap seolah-olah diperbudak oleh cinta.” Banyak orang yang menjuluki orang lain dengan sebutan tertentu, karena mereka hanya ikut-ikutan, tidak paham dengan maksud yang sebenarnya. Bener, gak? Asal kalian tahu aja, penulis juga. Kayak makmum yang selalu mengikuti imamnya.

Dijuluki bucin itu sebuah kebanggaan yang harus disyukuri atau justru harus malu dan merasa sedih? Tidak semua orang bisa merasakan hadirnya cinta, tidak semua orang bisa mendefinisikan apa itu cinta. Penulis sendiri kesulitan menemukan jawaban dari pertanyaan, “kok aku bisa disebut bucin? Padahal aku gak merasa sebagai bucin.” Apa karena kata-kata yang penulis ungkapan? Atau juga dari apa yang penulis lakukan? Penulis sadar kok, terkadang dan bahkan sering kali kalimat yang penulis ungkapan mengandung unsur cinta (bisa disebut dengan gombalan; omong kosong belaka). Apakah itu faktor yang menyebabkan penulis disebut bucin?

Penulis bingung, kalimat yang keluar dari penulis biasanya muncul secara spontanitas (tanpa direncanakan lebih dulu). Menurut pemahaman penulis, bucin itu berasal dari dalam diri sendiri, berangkat dari dorongan hati dan tanpa dipaksa oleh orang lain. Dapat disebabkan karena dirinya “pernah menjadi” atau “sedang menjadi” seorang bucin. Belajar dari pengalaman “pernah menjadi” bucin dan juga didukung dengan perbendaharaan kata yang dimiliki oleh otak, membuat sifat kebucinan semakin sempurna. Padahal orang tersebut hanya “pernah menjadi”. Sedangkan jika orang “sedang menjadi” bucin, berarti ia berperan menjadi aktor yang sedang diperbudak oleh cinta. Apalagi jika aktor tersebut mempunyai pacar atau minimal gebetan, yang dapat dipastikan “kebucinan” jauh lebih terasa.

Bucin, baru saja viral di berbagai media sosial. Virus bucin dengan cepat menyebar dan menginfeksi semua orang. Padahal dulu sebelum ada kata “bucin”, orang yang sering melontarkan kata atau melakukan perbuatan yang berhubungan dengan cinta, dianggap biasa saja. Tidak mendapat julukan apapun, tidak seperti sekarang. Sedikit-sedikit bucin, sedikit-sedikit baper, sedikit-sedikit modus, sedikit-sedikit sayang, eh ujung-ujungnya cuma dianggap temen.

Seru sekali membahas tentang bucin, yang tak terasa penulis sudah berada di akhir tulisan yang isinya tantang pesan dari penulis untuk para pembaca yang budiman. Cinta boleh, goblok jangan! Sayang boleh, tapi jangan mau hanya dianggap sebagai teman. Gak mau pacaran, tapi ngeluh jomblo. Siapa? Kamu! Sadar dong! Jangan halu… Jangan ngebucin mulu… Bucin boleh-boleh aja, tapi jika diibaratkan kacang, bucin pada manusia hanya mampu di bagian luarnya saja, terletak di bagian kulit yang tak sampai tembus pada daging kacang di bagian dalamnya. Nikmati cinta, namun jangan pernah terbuai olehnya. Jangan sampai, sikap “budak cintamu” terhadap hamba-Nya melebihi cintamu kepada Rabb-Mu.

Ikan hiu goyang-goyang

Terima kasih pembaca tersayang

Sekian…

Wassalamu’alaikum…..

BIOGRAFI PENULIS

Zahrotul izzah, atau akrab disapa zahiz atau izzah, lahir di Pati 21 Juli 2000. Sekarang melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Program studi Ilmu Hadis. Email zahrotulizzah21@gmail.com/IG zahro_zahiz/twitter @izzah_zahrotul.

Related posts

Leave a Comment