BELIK (1)

 

oleh: Hanis Akroh F.

Pagi ini aku bertamu ke rumah Mbah Taya, dan bisa dibilang hampir setiap hari aku selalu datang kerumahnya, bagiku rumahnya sudah seperti rumah keduaku. Bagaimana tidak, lha wong  kalau lapar tinggal kedapur saja, bila tidak ada makanan ya bisa langsung masak, lauknya metik sendiri, ngambil hasil kebun dari pekarangan rumahnya. mau kopi tinggal bikin. Tapi aku juga tahu diri, tidak serta merta aku menjadi penjajah jor-joran di sini. Kadang aku juga sering membawa beras, kopi, gula atau semacamnya untuk Si Mbah,  Ya walaupun akhirnya aku sendiri serta teman-teman yang memakannya.

“Tak bikin kopi ya Mbah?” tanpa menunggu jawabannya aku langsung nyelonong ke dapur.

“Oh ya jangan lupa ya.” sahut Si Mbah dari kursi teras rumah.

“Siap Mbah, sebelum Mbah ngomong aku juga sudah tahu kalau Mbah mau kopi, ini juga aku mau buat dua hehe,”

“Kamu ini, kemana teman-temanmu?”

“Pagi-pagi kok tanya teman, ya saya gak tahu Mbah, mbok ya tanya kabar saya saja”

“Lhah, memang kamu kenapa?”

“Nah, gitu dong Mbah” sambil membawa dua gelas kopi panas aku menghampirinya.

“Saya sedang bingung Mbah…” belum juga selesai bicara Si Mbah langsung memotong.

“Bukannya Kamu memang selalu bingung?” sambil mripatnya melototi wajahku dan kemudian tertawa keras sekali.

“Ah, Mbah ini selalu saja mengejek, tapi bingung saya ini kok lebih ke rasa takut ya Mbah”

“Berarti kamu bukan bingung tapi ketakutan, memang ada apa tha?”

“Tentang Manusia, Akhir-akhir ini saya kok sering merasa bahwa saya sedang hidup di lingkungan dan peradaban yang isinya Manusia tapi bukan Manusia Mbah?”

“…”

Related posts

Leave a Comment